Jilbab Wanita Muslimah: Menutup Seluruh Tubuh, Selain yang Dikecualikan.

698269157722ba4dc8b4ef45f89c6a23

Syarat ini terdapat di dalam firman Allah ta’aa surat An-Nur ayat31:

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita beriman, Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, memelihara kemaluan mereka dan jangan menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak. Hendaklah mereka menutupkan jilbab mereka ke dada mereka dan jangan menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, anak-anak mereka, anakanak suami mereka, saudara-saudara mereka, anak-anak saudara lakilaki mereka, anak-anak saudara perempuan mereka, wanita-wanita muslimah, budak-budak yang mereka miliki, pelayan-pelayan lakilaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anakanak yang belum mengerti aurat wanita. janganlah mereka menghentak- hentakkan kaki mereka agar diketahui adanya perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah wahai orang-orang beriman, agar kalian beruntung.”

Juga, terdapat di dalam firman Allah ta’ala surat Al-Ahzabayat 59:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu dan istri orang-orang beriman, Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenal dan tidak diganggu orang. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Pada ayat pertama diterangkan secara tegas adanya kewajiban bagi seorang wanita menutup semua perhiasan. Tidak boleh sedikit pun perhiasan tadi ditampakkan di hadapan orang-orang ajnabi yang bukan mahramnya, kecuali bagian yang biasa nampak tanpa mereka sengaja. Dan ketidaksengajaan tadi tidak menjadi dosa bagi mereka biladengan segera mereka tutup lagi.

Ibnu Katsirdi dalam kitab Tafsimya berkata, “Maksudnya, mereka tidak menampakkan sedikit pun perhiasannya kepada orang-orang ajnabi (yang bukan mahramnya), kecuali bagian yang tidak mungkin mereka sembunyikan. Ibnu Mas’ud berkata, ‘Seperti misalnya: selendang dan pakaian.’ Maksudnya ialah, tutup kepala yang biasa dikenakan oleh wanita Arab dan pakaian bawahan yang memang biasa mereka nampakkan, maka itu tidak mengapa mereka nampakkan, karena tidak mungkin mereka sembunyikan.”

Al-Bukhari (Vll:290) dan Muslim (V:197) meriwayatkan sebuahhadits dari Anas ,, dia berkata:

“Pada waktu perang Uhud, kaum muslimin kocar-kacir meninggalkan Nabi sedangkan Abu Thalhah berdiri di Hadapan beliau melindungi dengan perisai dari kulit miliknya. Saya mefihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim berjalan tergesa-gesa. Saya melihat gelang-gelang kaki mereka tatkala keduanya melompat-lompat sambil membawa geriba di punggungnya dan menuangkan geriba tersebut kemulut-mulut kaum muslimin”

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata, “Itu terjadi sebelum turunnya ayat htjab. Dan kemungkinan hal itu kelihatan tanpa mereka sengaja.”

Pengertian firman Allah: “kecuali yang biasa nampak yang saya sebutkan di atas adalah pengertian yang langsung bisa ditangkap dari ayat tersebut. Memang para salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in berbeda pendapat dalam menafsirkan perkataan “kecuali yang biasa nampak” ini. Ada yang menafsirkan: ‘Pakaian-pakaian luar’, dan ada pula yang menafsirkan: ‘Celak, cincin, gelang dan wajah’; serta ada lagi yang berpendapat lainnya yang disebutkan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab Tafsirnya (XVIII:84).

Kemudian dia sendiri memilih: ‘Wajah dan kedua telapak tangan’.’5 Dia berkata, “Yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah wajah dan kedua telapak tangan. Hal itu termasuk di dalamnya celak, cincin, gelang dan inai. Kami mengatakan, bahwa pendapat tersebut yang benar dikarenakan ada ijma’ wajibnya orang shalat menutup auratnya, dan bahwa perempuan harus membuka wajah dan kedua tangannya ketika shalat sedangkan bagian tubuh lainnya harus tertutup. Meski-pun ada diriwayatkan’6dari Nabi bahwa beliau membolehkan wanita menampakkan separoh tangannya. Kalau semua itu sudah menjadi ijma’, sebagaimana yang sama-sama kita ketahui, maka berarti wanita dibolehkan membuka bagian badannya yang bukan termasuk aurat sebagaimana berlaku juga pada pria. Karena bagian badan yang bukan aurat tentu tidak diharamkan untuk ditampakkan. Karena sudah sama-sama kita ketahui bahwa bagian-bagian tersebut termasuk bagian-bagian tubuh yang memang dikecualikan oleh Allah di dalam firman-Nya ‘kecuali yang biasa tampak’. Karena bagianbagian tubuh itu memang biasa ditampakkan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s