Jilbab Wanita Muslimah: Kainnya Harus Longgar, Tidak Ketat.

pretty-rose-suitcase-vintage-yellow-Favim.com-54426

Jilbab disyaratkan harus longgar, karena maksud dan tujuan (seorang wanita) berpakaian tidak lain adalah
untuk menghilangkan fitnah (ketertarikan laki-laki asing). Hal itu tidak mungkin terwujud kecuali dengan potongan yang longgar. Karena pakaian yang ketat, meskipun bisa membuat tertutupnya warna kulit, namun tetap dapat menggambarkan lekuk tubuhnya sehingga masih akan menggoda pandangan laki-laki. Bila pakaian wanita seperti itu keadaannya niscaya akan mengundang banyak kemaksiatan dan menimbulkan kerusakan bagi laki-laki yang melihatnya. Oleh karena itulah pakaian wanita mesti harus longgar, tidak ketat.

Aisyah pernah berkata: “Seorang wanita ketika menunaikan shalat harus mengenakan tiga pakaian, yaitu baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah shalat dengan memanjangkan kain sarungnya untuk diajadikan jilbab.” Aisyah melakukan hal itu tidak lain agar tidak ada sedikit pun bagian pakaiannya yang menggambarkan lekuk tubuhnya. Perkataan Aisyah “harus” merupakan bukti wajibnya hal itu. Pendapat senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar:

“Bila wanita shalat maka harus mengenakan pakaiannya secara lengkap, yaitu baju, khimar dan pakaian yang menyelimuti seluruhtubuhnya.”

Ini semua menguatkan pendapat kami di muka mengenai wajibnya wanita mengenakan khimar sekaligus jilbab ketika hendak keluar rumah.

Alangkah baiknya juga kami kemukakan sebuah atsar yang diriwayatkan dari Ummu Ja’far bintu Muhammad bin Ja’far, bahwa Fathimah binti Rasulullah pernah berkata: “Wahai Asma’, svsungguhnya aku memandang buruk seorang wanita yang mengenakanpakaian namun masih menggambarkan lekuk tubuhnya.” Asma’ menjawab, “Wahai putri Rasulullah maukah saya perlihatkan kepadamu sesuatu yang pernah saya lihat di negeri Habasyah?” Lalu Asma’ membawakan bebera papelepah daun kurma yang masih basah, kemudian dia bentuk menjadi pakaian lalu dia pakai. Fathimah
berkata, “Betapa baiknya dan betapa eloknya pakaian ini, karena dengan pakaian ini dapat dibedakan antara perempuan dan laki-laki, jika saya mati nanti, maka saya minta dimandikan oleh kamu bersama Ali dan jangan boleh ada seorangpun yang menengok saya,” Maka tatkala Fathimah meninggal, Ali dan Asma’ yang memandikannya

Perhatikanlah sikap Fathimah yang merupakan tulang rusuk Nabi bagaimana dia memandang buruk bilamana sebuah
pakaian itu dapat menggambarkan lekuk tubuh seorang wanita meskipun sudah mati, apalagi yang masih hidup, tentu lebihlebih lagi.

Oleh karena itu, hendaklah wanita mukminah di zaman ini mau merenungkan hal ini, terutama para wanita yang masih memakai pakaian yang ketat yang menggambarkan bulatnya buah dada, pinggang, betis dan anggota badan lainnya. Selanjutnya, hendaklah mereka beristighfar kepada Allah, bertobat kepada-Nya dan selalu mengingat sabda Nabi :

“Perasaan malu dan iman itu keduanya selalu bertalian; manakala salah satunya hilang, maka hilang pulalah satu lainnya. “

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s