Jilbab Wanita Muslimah: Tidak Untuk Berhias

floral-pearls-pretty-rose-vintage-Favim.com-153971

Jilbab disyaratkan tidak untuk berhias, berdasarkan firman Allah ta’ala yang tersebut di dalam surat An-Nur ayat 31: “Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka.”

Secara umum ayat ini mengandung larangan menghiasi pakaian yang dipakainya sehingga menarik perhatian laki-laki. Ayat ini juga dikuatkan oleh firman Allah yang tersebut di dalam surat Al- Ahzab
ayat 33:

“Dan hendaklah kalian tetap tinggal di rumah!]uga, janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dulu!”

Juga berdasarkan sabda Nabi .

“Ada tiga golongan manusia yang tidak ditanya, (karena mereka sudah pasti termasuk orang-orang yang celaka):
pertama, seorang laki-laki yang meninggalkan jama’ah dan mendurhakai imamnya serta meninggal dalam kedurhakaannya itu; kedua, seorang budak wanita atau lakilaki yang melarikan diri meninggalkan pemiliknya, lalu dia mati; ketiga, wanita yang ditinggal pergi oleh suaminya, dimana suaminya itu telah mencukupi kebutuhan
duniawinya, namun (ketika suaminya tidak ada itu) dia bertabarruj. Ketiga orang itu tidak akan ditanya.™

Tabarruj adalah perbuatan wanita menampakkan perhiasan dan kecantikannya, serta segala sesuatu yang seharusnya
ditutup dan disembunyikan karena bisa membangkitkan syahwat laki-laki. Jadi, maksud perintah mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutup perhiasan wanita. Dengan demikian, tidaklah masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita itu malah menjadi pakaian untuk berhias, sebagaimana
sering kita temukan. Berkaitan dengan ini, Imam Adz-Dzahabi di dalam Kitab Al-Kabair hlm. 131 berkata:

“Di antara perbuatan yang menyebabkan wanita akan mendapatkan laknat adalah: menampakkan perhiasan emas dan mutiara yang berada di balik niqab (tutup kepala)nya, memakai berbagai wangiwangian, seperti misik, anbar dan thib ketika keluar rumah, memakai berbagai kain yang dicelup, memakai pakaian sutera, memanjangkan baju dan melebarkan serta memanjangkan lengannya. Semua itu termasuk bentuk tabarruj yang dibenci Allah,
yang pelakunya akan mendapatkan murka Allah di dunia dan di akhirat. Karena perbuatan-perbuatan tersebut banyak dilakukan oleh kaum wanita, maka Rasulullah bersabda tentang mereka: “Saya pernah menengok ke neraka, dan temyata kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita.”

Hadits ini adalah hadits shahih, yang diriwayatkan oleh Al- Bukhari, Muslim dan lainnya dari Imran bin Hushain dan lainnya. Ahmad dan lainnya dari Ibnu Amru secara marfu’ menambahkan:

“… dan orang-orang kaya.” Namun tambahan di atas mungkar (tertolak), sebagaimana telah saya tahqiq di dalam kitab Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah (hadits no.2800) jilid VI.

Saya katakan: Begitu kerasnya Islam melarang perbuatan tabarruj sehingga disetarakan dengan perbuatan syirik, zina, mencuri dan perbuatan-perbuatan haram lainnya. Hal itu karena ketika Rasulullah membai’at para wanita beliau menegaskan agar mereka tidak melakukan perbuatan-perbuatan tersebut. Abdullah bin Amru pernah mengisahkan: Umaimah bintu Ruqaiqah pernah datang berbai’at kepada Nabi untuk masuk Islam. Nabi sallaullahu allahu wa sallam berkata, “Saya membai’at kamu untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anakmu, tidak membuat-buat ke-dustaan yang dibuat dengan kedua tangan dan kedua kakimu, tidak meratap, dan tidak bertabarruj seperti dilakukan wanita-wanita jahiliyah dulu.”
Namun perlu diketahui, bahwa sama sekali bukanlah termasuk kategori perhiasan jika pakaian yang dipakai oleh
seorang wanita itu tidak berwarna putih atau hitam. Ini perlu saya tegaskan, karena hal ini terkadang disalahpahami oleh sebagaian kaum wanita yang ingin komitmen (dengan agamanya). Alasannya adalah:

Pertama sabdanya Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam: Parfum wanita adalah yang tampak warnanya namun tersembunyi baunya…. (Hadits ini tersebutdi dalam kitab Mukhtashar Asy-Syama’il, hadits no.188)

Kedua, adanya praktek para wanita sahabat yang memakai pakaian yang berwarna selain hitam dan putih….

Berikut ini saya kemukakan beberapa riwayatyang menunjukkan hal itu yang disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab Al-Mushannaf (VIII: 371-372):
1. Dari Ibrahim, yaitu Ibrahim An-Nakha’i, bahwa pernah dia bersama Al-Qamah dan Al-Aswad mengunjungi para istri Nabi dan dia melihat mereka mengenakan pakaian-pakaian panjang
berwarna merah.

2. Dari Ibnu Abi Mulaikah, dia berkata, “Saya pernah melihat Ummu Salamah mengenakan baju dan pakaian panjang yang berwarna kuning.”

3. Dari Al-Qasim, yaitu Ibnu Muhammad bin Abu Bakar Ash Shiddiq, bahwa Aisyah pernah mengenakan pakaian yang ber warna kuning, padahal dia sedang melakukan ihram.

4. Dari Hisyam, dari Fathimah bintu Al-Mundzir, bahwa Asma’ pernah memakai pakaian yang berwarna kuning padahal dia sedang ihram.

5. Dari Sa’id bin Jubair bahwa dia pernah melihat sebagian dari istriistri Nabi ^thawaf mengelilingi ka’bah dengan mengenakan pakaian berwarna kuning.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s