Jilbab Wanita Muslimah: Tidak Menyerupai Pakaian Laki-laki

adidas-amazing-beautiful-boy-Favim.com-616040

Hal itu berdasarkan beberapa hadits shahih yang melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dalam hal berpakaian
atau hal lainnya. Kami akan sebutkan beberapa hadits sebagai

berikut:

1. Dari Abu Hurairah, dia berkata:

“Rasulullah salllaullahu allahi wa sallam , melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (II: 182), Ibnu Majah (1:588), Al-Hakim (IV: 194) dan Ahmad (II: 325) Shahih.

2. Dari Abdullah bin Amru, katanya, “Saya mendengar Rasulullah salllaullahu allahi wa sallam bersabda: Bukan termasuk golongan kami wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.’

3. Dari Ibnu Abbas, dia berkata:

“Nabi melaknat laki-laki yang bertingkah laku seperti wanita dan melaknat wanita yang bertingkah laku seperti
laki-laki. Nabi mengatakan: ‘Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian!’ Nabi mengeluarkan si Fulan dan
Umar pun mengeluarkan si Fulan.”

4. Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, “Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam bersabda:
‘Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. (Mereka itu yaitu): Orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang bertingkah laku seperti laki-laki, dan dayyuts (lakilaki yang tidak peduli dengan kejelekan akhlak istrinya. -pent.) HR. An-Nasai (1:357), Al-Hakim (1:72 dan IV: 146-147), Al-Baihaqi (X: 226), Ahmad (hadits no. 6180)

5. Dari Ibnu Abu Mulaikah, yang nama aslinya Abdullah bin Ubaidillah, dia berkata, “Aisyah pernah ditanya, ‘Bagaimana pendapatmu tentang wanita yang memakai sandal jepit?’ Dia menjawab: ‘Rasulullah telah melaknat wanita yang bertingkah laku menye-rupai laki-laki’ HR.Abu Dawud (II: 184) Shahih.

Di dalam hadits-hadits di atas terdapat petunjuk yang jelas haram-nya wanita menyerupai laki-laki; begitu pula sebaliknya. Ini sifatnya umum, meliputi masalah pakaian dan lain-lainnya, kecuali hadits pertama yang hanya menyebutkan hukum dalam masalah pakaian.

Abu Dawud berkata di dalam kitab Masa-il Al- Imam Ahmad (him. 261): “Saya pernah mendengar Imam Ahmad ditanya
tentang seseorang yang memakaikan rompi119 kepada anak perempuannya. Maka dia menjawab, “Tidak boleh dia memakaikan pakaian laki-laki kepadanya dan tidak boleh menyerupakannya dengan anak laki-laki.”

Abu Dawud berkata, “Saya pernah bertanya kepada Ahmad, ‘Bolehkah seseorang memakaikan sandal jepit kepada
anak perempuannya?’ Dia menjawab, Tidak boleh, kecuali jika dia memakainya

untuk keperluan berwudhu.’ Saya bertanya, ‘Kalau untuk berhias?’ Dia menjawab, ‘Tidak boleh.’ Saya bertanya lagi, ‘Bagaimana kalau dia mencukur rambutnya?’ Dia menjawab, ‘Tidak boleh.’ HR. An-Nasai (II: 276) dan At-Tirmidzi (II: 109

Adz-Dzahabi memasukkan tindakan wanita yang menyerupai laki-laki dan tindakan laki-laki menyerupai wanita
sebagai dosa besar sebagai tersebut di dalam kitab Al-Kabair (him. 129) seraya menyebutkan sebagian dari hadits-hadits di muka. Kemudian dia berkata: “Jika seorang wanita memakai pakaian laki-laki, maka berarti dia telah menyerupai kaum lakilaki, sehingga dia pun akan dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya. Laknat Allah ini bisa juga menimpa suaminya bila dia membiarkan dan tidak mau melarang istrinya melakukan hal seperti itu, karena seorang suami diperintahkan untuk membimbing istrinya agar senantiasa taat kepada aturan Allah dan mencegahnya

Al-Hafizh di dalam kitab Fathu Al-Bari (X: 273-274) ketika menjelaskan hadits Ibnu Abbas di muka pada nomer 3 dengan lafazh kedua, yaitu:

“Rasulullah melaknat para wanita yang menyerupai laki-laki dan melaknat para laki-laki yang menyerupai wanita,”

dia berkata yang secara ringkasnya sebagai berikut: “Ath-Thabari berkata, ‘Tidak dibolehkan seorang laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang menjadi ciri khas wanita; dan sebaliknya.'”

Syaikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah berkata, “Tampaknya larangan menyerupai tingkah lawan jenis tersebut meliputi segala hal. Akan tetapi dari dalil-dalil lain diketahui bahwa yang dimaksudkan adalah dalam masalah pakaian, beberapa sifat, perilaku dan sejenis-nya. Jadi, bukan termasuk dalam perkaraperkara kebaikan.” Dia menambahkan, “Dan hikmah pelaknatan terhadap perilaku penyerupaan diri ini adalah karena hal itu bisa
menyimpangkan seseorang dari sifat asli yang telah diciptakan oleh Allah Yang Mahabijaksana pada dirinya. Nabi telah mengisyaratkan hal itu ketika melaknat wanita-wanita yang menyambung rambutnya dengan bersabda:

“Wanita-wanita yang mengubah ciptaan Allah.” HR.Al-Bukhari (X: 306), Muslim (VI: 166-167) dan lainnya.

Jadi yang membedakan antara jenis pakaian laki-laki dan pakaian wanita kembali kepada apa yang pantas dipakai kaum laki-laki dan apa yang pantas dipakai kaum wanita, yaitu tidak lain adalah pakaian yang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk dipakai kaum laki-laki dan dipakai untuk kaum wanita. Kaum wanita itu diperintahkan menutup seluruh tubuhnya, serta dilarang bersolek dan memamerkan diri. Oleh karena itu, tidak disyaritakan kepada wanita untuk meninggikan suaranya ketika adzan dan membaca talbiyah; juga ketika menaiki Shafa dan Marwah, serta tidak disyariatkannya menggunting rambut dalam ihram, sebagaimana disyariatkannya hal itu kepada kaum laki-laki. Karena, laki-laki memang diperintahkan untuk membuka kepalanya, tidak memakai pakaian yang biasa dia gunakan, tidak memakai baju dan celana, juga kopiah dan selop. Akan tetapi, ketika dia membutuhkan pakaian yang harus menutup aurat dan sarana untuk alas berjalan, maka diberinya keringanan, yaitu bila tidak menemukan sarung untuk memakai celana dan jika tidak menemukan sandal untuk memakai selop, dimana ini sebagai pengganti karena hal-hal yang sifatnya umum; berbeda bila karena hal-hal yang sifatnya khusus,
seperti sakit atau kedinginan, maka dia ber-kewajiban membayar fidyah (tebusan) bila dia memakainya. Abu Hanifah menolak adanya ketentuan semacam itu. Akan tetapi kebanyakan ulama berselisih pendapat dengannya. Mereka beralasan dengan hadits shahih, Yaitu hadits Nabi u

“Janganlah orang yang berihram memakai gamis, sorban, celana, kopiah dan sepatu, —kecuali seseorang yang tidak mendapatkan sandal, itu pun hanya dibolehkan menggunakan selop dan hendaklah dia memotong selopnya itu hingga tingginya di bawah mata kaki—; dan janganlah memakai sedikit pun pakaian yang telah disentuh jia’faran atau waras. (maksudnya, wangi-wangian. -pent.)”
Hadits di atas muttafaqun ‘alaih

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s