Konsep kehidupan dalam islam..

bed-cream-fairy-flower-frame-lights-Favim.com-45807

Orang yang ahli ibadah (re: sholeh) itukan identik dengan sosok yang serius, kaku, nggak pernah ketawa, nggak suka bercanda.

Pembahasannya yang sedih-sedih terus. Yang berat-berat terus.
Apalagi anak muda, yang padahal diberikan kelebihan oleh Allah, energik, semangat yang membara, jiwa yang penuh gairah. Kayanya kok nggak asik dan monoton banget kalau hanya dihabiskan dimasjid.

Tapi.. apa benar begitu?

Ketika kita mengatakan sosok pemuda yang ideal dalam islam adalah anak muda yang takut bermaksiat kepada Allah, yang senantiasa sujud dan berdzikir kepada Allah, yang tujuan hidupnya adalah surga. Itu bukan berarti hidup itu menjadi gersang, menjadi monoton, nggak nyaman dan nggak asik lagi. Ini pola pikir yang salah.

Kenapa salah?

Karna pola pikir yang benar dalam islam adalah, ibadah dan pengorbanan jika kita lakukan dari lubuk hati yang terdalam maka kita akan mendapatkan kebahagian. Bukan keterpaksaan akhirnya menimbulkan rasa tidak nyaman.

Kebagian yang sejati itu letaknya dihati, *disini* *eaaak*

Bahagia itu bukan berarti yang paling banyak ketawa, bukan yang paling sering hangout ketempat-tempat keren, bukan yang paling sering ke clubbing, dari club satu ke club yang lain. Justru sebaliknya, orang yang setiap malam clubbing, berarti dia nggak mendapatkan kebahagian didalam hati dan rumahnya, maka dia mencari kebahagian lain diluar rumahnya, inget! itu bukan kebahagian tapi itu pelarian.

Islam adalah agama yang humanis yaitu yang memanusiakan manusia, semua perasaan manusia telah diakomodir oleh islam. Islam nggak meminta kita untuk menangis setiap hari, setiap saat, pun tidak meminta kita untuk tertawa terus menerus.

Konsep hidup dalam islam adalah sa’atan sa’ah ada waktunya kita menangis, mengingat dosa, ada waktunya kita bersedih mengingat kekurangan kita, namun ada waktunya kita untuk tersenyum, bercanda dan bermain bersama pasangan kita, (kita???) pasangan masing-masing! ada waktunya kita bergaul bersama teman. Ada juga waktunya kita untuk berkhalwat kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jadi intinya..

“Konsep dalam islam adalah ada waktunya kita bergaul dengan manusia ada waktunya kita bersama dengan sang pencipta”

Seperti sahabat nabi sallaullahu alahi wa sallam.. yaitu Salmân Al-farisi radhiyallahu anhu.

Suatu hari salman mengunjungi rumah saudaranya Abu Darda` Radhiyallahu anhu lalu bertemu dengan Ummu Darda`Radhiyallahu anha memakai pakaian yang lusuh. Salman bertanya kepadanya,

“Wahai Ummu Darda, kenapa engkau berpakaian seperti itu?”

Ummu Darda menjawab, “Saudaramu sudah tidak membutuhkan dunia lagi.. sedikit pun tidak perhatian terhadap istrinya. Di siang hari dia berpuasa dan di malam hari dia selalu shalat malam dari ba’da isya hingga menjelang subuh”

Lalu salman pun menemui Abu Darda yang sedang berpuasa, meski sedang berpuasa abu darda tetap menghidangkan makanan kepada salman seraya berkata, “Makanlah (wahai saudaraku), sesungguhnya aku sedang berpuasa”
Salman Radhiyallahu anhu menjawab, “Aku tidak akan makan hingga engkau makan.” akhirnya Abu Darda pun ikut makan. Tatkala malam telah tiba, Abu darda ingin melaksanakan shalat tahajud akan tetapi, Salman menegurnya dengan mengatakan, “tidurlah, sekarang belum waktunya” dan dia pun tidur.

Akhirnya mereka pun istirahat hingga jam menunjukan waktu 1/3 malam salman pun membangunkan abu darda untuk qiyamul lail.
Salma berkata kepada Abu Darda

“ Wahai Abu Darda sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atas dirimu, badanmu mempunyai hak atas dirimu dan keluargamu (istrimu) juga mempunyai hak atas dirimu. Maka, tunaikanlah hak mereka.”

Tapi Abu darda merasa tiak puas dan dia ingin melaporkan ini kepada Rasulullah sallaulahualahi wa salam, akhirnya kedua sahabat itu pun mendatangi rasulullah,

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Salman benar” [HR. al-Bukhâri no. 1867., kitab Ash-Shahâbah hlm.462]

Lihatlah, salman Radhiyallahu anhu, beliau sedang menjelaskan bahwa islam itu agama yang mudah, semua ada porsinya masing-masing. Ada waktunya puasa, ada waktunya berbuka, ada waktunya memuliakan tamu.

Maka ketika Abdullah bin umar pernah ditanya “wahai ibnu umar, para sahabat nabi itu pernah tertawa juga atau tidak?” lalu ibnu umar menjawab

“mereka pun juga tertawa, Abu bakar, umar, utsman itu bisa tertawa juga, tapi iman didalam hati mereka lebih kokoh daripada sebuah gunung”

Inilah kehidupan yang proposional, tau kapan waktunya untuk tertawa, tau kapan waktunya untuk menangis.

karna konsep kehidupan yang sejati dalam islam adalah ketika kita memberikan pihak haknya masing-masing.

Wallahu ta’ala a’lam.

Muroja’ah dari Ustadz Muhammad nuzul dzikri, hafizahullah.
Dalam sesi tanya jawab “muda foya-foya mati masuk surga”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s