Tentang Kenaikan BBM

dapur tradisional

Bagaimanakah sikap seorang muslim menghadapi kenaikan BBM?

Keputusan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak atau BBM, ternyata nggak hanya rame dan heboh dipom-pom bensin dan dijalan-jalan oleh teriakan para demonstran, tapi ternyata disocial media terutama facebook nggak kalah heboh juga.

Ada yang menghujat pemerintah, mencak-mencak, mengeluh tentang kondisi keuangannya, ada yang pasrah, ada yang tawakal, ada juga yang bingung. Kalau saya, masuk kategori yang terakhir.

Bingung..

Bingung banget,

Nggak tau mesti gimana?

Tapi sebagai seorang muslim, nggak usah bingung-bingung, muslim yang baik adalah yang selalu mengembalikan perkara apapun kepada Al-Qur’an dan As-sunnah.

Islam adalah agama yang sangat sempurna, semuanya ada aturannya, jadi dalam kondisi dan perkara apapun syariat islam harus tetap dinomor satukan.

Nggak usah menghujat pemimpin, nggak usah mencak-mencak, nggak usah emosi.

Santai aja..

Ini bukan masalah “siapa pemimpinnya” siapapun pemimpinnya kalau memang bbm harus naik, insya Allah bakalan naik-naik juga.

Semua rakyat ingin suaranya didengar oleh pemimpin, semua ingin diperhatikan oleh pemimpin tapi apakah demo, turun kejalan, membongkar aib pemimpin itu solusinya?

Cobadeh, kita sedikit berpikir, tentang alasan pemimpin bisa memilih jalan untuk menaikkan BBM? Coba kita

renungkan, apa benar presiden kita ingin menyengsarakan rakyatnya sendiri?

Pemimpin mana yang ingin menjadikan negri pimpinannya hancur?

Apa kita nggak bisa sedikit saja berbaik sangka padanya?

Bukan cuma kita yang ngalamin kenaikan harga, jauh sebelum kita, para salaf (orang-orang terdahulu) sudah lebih dulu merasakannya. Bahkan ketika Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam sendiri yang masih menjadi pemimpinnya.

Dulu para sahabat mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata:

“Wahai Rasulullah, harga-harga barang banyak yang naik, maka tetapkan keputusan yang mengatur harga barang.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang menetapkan harga, yang menyempitkan dan melapangkan rezeki, Sang Pemberi rezeki. Sementara aku berharap bisa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku disebabkan kezalimanku dalam urusan darah maupun harta.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh syaikh Al-Albani)

Lihat Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam, ketika harga barang harus naik beliau tidak melakukan penekan harga barang, namun beliau justru malah mengingatkan para sahabat tentang takdir Allah, bahwa Allah lah yang menetapkan harga.

Maka kita contohlah para generasi terdahulu. Mereka tetap tawakal dan menerima ketetapan dan takdir Allah.
Sebagai orang yang ingin dibangkitkan bersama mereka kelak, kenapa kita tidak tanamkan hal serupa kepada diri kita.

Kenapa kita nggak berusaha sabar dan tawakal atas takdir dan ketetapan Allah?

“ah kamu bisa ngomong, kamu belum ngerasain sih jadi ibu rumah tangga..”

“memang..”

Tapi yang perlu kita ingat,

kenaikan bbm, kenaikan harga-harga sama sekali nggak mempengaruhi rizki kita.
Karna rizki kita sudah diataur dan ditentukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Jatah rezeki yang Allah tetapkan nggak akan bertambah maupun berkurang apalagi tertukar, Meskipun, kita diuji dengan kenaikan harga barang.

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya. Dan Dia meengetahui tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS.Hud: 6)

Lihat, binatang melata aja sudah Allah jamin rizkinya, apalagi kita manusia. Allah maha kaya, jangan takut miskin.

Kalau kita sudah memahami bahwa rizki adalah sesuatu yang sudah tertulis, sudah dijamin, maka harusnya nggak usah lagi pusing-pusing, bahkan sampe setres mikirin kenaikan harga dan terus-terusan menyalahi pemerintah. Kita diperintahkan untuk mena’atinya, bukan menghujat dan membongkar aibnya, meskipun dia zhalim. Meskipun pemimpin kita adalah orang yang dzalim!

Kita renungkan hadits Nabi sallaullahu allahi wa sallam dibawah ini,

“Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak mendapat petunjukku (dalam ilmu) dan tidak pula melaksanakan sunnahku (dalam amal). Nanti akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Lalu para sahabat bertanya

“Wahai Rasulullah, apa yang harus kami lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?”

Beliau bersabda,

”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka”

(HR. Muslim no. 1847)

Kita? Bagaimana lagi jika mendapat perlakuan seperti itu, baru begini saja seolah-olah sudah nggak ada lagi rasa hormat kepada pemimpin.

Bayangkan, walaupun mereka menyiksa punggung kita dan mengambil harta kita Rasulullah tetap memerintahkan kita untuk ta’at.

Al Hasan Al Bashri rahimahullah pernah berkata:

“Mereka (penguasa) mengurusi lima perkara untuk kemaslahatan kita: shalat Jum’at, shalat jama’ah, shalat ‘ied, penjagaan tabal batas dan hukum had. Semua perkara tersebut tidaklah bisa tegak kecuali dengan penegakan dari penguasa meskipun mereka suka melampaui batas dan berbuat zholim. Demi Allah, maslahat ketika taat pada penguasa itu lebih besar dibanding mafsadat yang ditimbulkan. Menaati penguasa adalah suatu keselamatan dan berlepas diri dari mereka adalah suatu kekufuran (kebinasaan)”

(Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 117)

“Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zholim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezholiman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezholiman mereka dapat melebur dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah Ta’ala tidak menjadikan mereka berbuat zholim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza’ min jinsil ‘amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita”

(Ibnu Abil Izz rahimahullah dalam Syarh Aqidah Ath Thohawiyah, hal. 381, terbitan Darul ‘Aqidah)

Jadi solusi yang terbaik dalam menghadapi permasalahan ini adalah bersabar dan banyak memohon ampun kepada Allah.

Inilah prinsip yang diajarkan oleh salafush sholeh, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Mereka tetap ta’at kepada pemimpin. Selama bukan kedalam, bermaksiat kepada Allah.

“Tidak ada kewajiban ta’at dalam rangka bermaksiat (kepada Allah). Ketaatan hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (bukan maksiat)” (HR. Bukhari no. 7257).

Semoga Allah memberikan kita pemimpin yang ta’at kepada Allah dan RasulNya, serta jujur dan amanah, membangun bangsa ini agar lebih baik lagi.

Semoga Allah membuka pikiran dan hati kita hingga bisa lebih menerima ketetapannya dan mena’ati pemimpin kita serta memberikan kesabaran jika mendapat kezhaliman darinya.

“Jika ada yang menimpa seorang muslim, baik berupa rasa capek, sakit, kebingunan, kesedihan, kezhaliman orang lain, kesempitan hati, sampai duri yang menancap di badannya maka Allah akan jadikan semua itu sebagai penghapus dosa-dosanya.” (HR. Bukhari)

Catatan dan teguran untuk diri penulis sendiri, Semoga Allah memberikan taufik dan hidayahnya kepada kita, terutama kepada penulis.

Wallahuta’ala a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s