Nenek dan Catatan Kajiannya..

10881659_437478489738515_715110804209715869_n

Merekalah.. Yang akan menjadi hujjah terberat bagi kita yang muda yang tidak mau belajar agama.

“Nenek.. Sering ikut kajian ya, catatan nya sudah banyak..”

“Iyaa.. Alhamdulilaah badannya lagi enak, kemarin2 suka nggak kuat diajak jauh.. ”

“Oh, Rumahnya dimana?”

“Di( saya lupa dimana)” Yang jelas bukan dekat dari majelis tempat ia ngaji.

“Kesini sama siapa?”

“Nih.. Sama temen” (Yang juga sebaya dengannya)

“Itu bacanya apa ya?” Sambil nunjuk ke-arah panitia yang bawa kertas bertuliskan “TIM MEDIS”

“Tim medis nek, nenek mau apa? Kayu putih, balsem?”

“Nggak cuma tanya aja soalnya matanya udah nggak bisa liat jelas.. ”

“Ooh.. *agaknyeshdengernya* tapi nenek dari tadi nulis, kebaca?”

“Nggak sih.. Ini cuma dengerin aja terus tulis.. Asal-asal”

“Tapi tulisan nenek bagus, aku nggak bisa nulis sambung gitu.. Boleh liat nggak?”

“Ini tulisan jadul hehehe, kamu nggak bakal bisa baca.. ”

“Tapi bagus nek, rapih, liat catatanku acak-acakan.. ”

“Ini pakai pensil dulu, nanti dirumah nenek salin lagi.. ”

“Ini semua nanti dirumah nenek salin lagi???”

“Iya.. ”

Disaat, yang muda mulai jenuh.. Ada yang sudah sibuk dengan gadgetnya masing-masing..

Ada yang sibuk reoni dunia maya. Alias “Kopdar” ada yang sibuk ngeluarin bekel masing-masing, makan, nyemil.

Tapi kedua nenek ini, sejak awal kajian hingga akhir sibuk dengan catatannya, mencatat disebuah buku, yang covernya hapir lepas, yang warna kertasnya sudah menguning, dia menulis setiap ilmu yang disampaikan ustadz, kalau tidak salah liat beliau sampai 3/4 lembar mencatat. Tidak mengobrol sama sekali. Kecuali ketika sudah memasuki sesi pertanyaan, beliau baru bisa saya ajak bicara.

Bahkan, saya sering bertanya dan nyontek catatannya, jika ada yang tertinggal. *Harusnyakebalik*

Kalau yang tua saja sangat bisa menjaga adab dalam menuntut ilmu.. Kenapa kita yang muda tidak?

“Nenek.. Aku pulang duluan ya.. ”

“Iyaa.. ”

“Nanti ketemu lagi.. ”

“Insya Allah.. ”

“Assalamulaikum.. ”

Maafya nek tadi ku fotonya diam-diam

Sayang nggak bisa ambil foto nenek yang satunya karna sulit. Takut menganggu mereka.

Tadi izin mau foto tulisannya, masya Allah tulisannya rapih dan bagus. Tapi nggak diizinin. Katanya malu..

Nenek bilang, catatannya yang banyak itu akan ia salin lagi dirumah, membuat saya teringat nasehat seorang ulama yang pernah saya baca..

Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah, beliau berkata,

“Buatlah sebuah buku kumpulan faidah atau buku catatan untuk menulis faidah ilmu. Jika engkau memanfaatkan bagian belakang cover kitab untuk mencatat faidah dari kitab tersebut, maka itu suatu hal yang baik. Lalu pindahlah catatanmu tadi ke buku catatanmu, urutkanlah sesuai dengan materinya, lalu cantumkanlah pokok bahasan, nama kitab, halaman, dan jilid kitab. Lalu tulislah di akhir catatanmu tadi : “Dinukil dari…” supaya tidak tercampur antara faidah yang dinukil dari kitab dan yang tidak dinukil dari kitab tersebut”

[Hilyah Thalibil ‘Ilmi hal. 52]

Entah si nenek, pernah mendengar nasehat itu atau tidak..

Semoga Allah memberkahi usianya. Menghitung setiap langkahnya menuju majelis ilmu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s