Management Waktu..

tumblr_lsvfbn0nco1r39pojo1_500

Masih banyak kitab yang belum kita baca, masih banyak hadits yang belum kita hapal, masih banyak ilmu yang belum kita pelajari.

Lalu untuk apa kita sibuk mengurusi fitnah? Sesuatu yang kita tidak ada ilmu tentangnya. Kita tidak akan ditanya soal itu di hari kiamat,

tapi kita akan ditanya soal ilmu yang telah
kita pelajari tetapi belum kita amalkan..

[Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas, Hafidzahullahuta’ala]

The utmost thalabul ilmi itu ya menghafal, meski sedikit, bukan sekadar pasang telinga lalu merasa pasti bakal ingat isi kajian.

The fact: rata-rata yang cuma pasang telinga setelah keesokan lupa everything. Hafalan adalah bekal dan senjata.

Orang yang mengaku tidak bertaqlid atau anti taqlid tapi ditanya dalil tidak pernah punya hafalan dalil justru memalukan.

Kelak kita para pemuda ini, akan mendidik anak-anak kita untuk menghafal ayat dan hadits lebih pede, karena kita punya hafalan.

Orang-orang yang malas menghafal akan berdalih, “Dakwah itu harus dahulukan akhlak! Percuma hafalan banyak namun akhlak minus!”

Tapi mereka sendiri kurang berakhlak dengan dalil, dengan cara: malas menghafal dalil, namun rajin menghafal nama-nama ustadz.

Setelah mulai bangkit, setelah berkoar tentangnya, insya Allah kita akan memulai mengompori hamba-hamba Allah ta’ala untuk menghafal dalil semampunya.

Yang mau, maka harus siap maju. Yang tidak mau, maka tunggu rasa malu akan menenggelamkannya beberapa bulan kemudian.

Dan Anda termasuk orang yang sebenarnya punya potensi hafal dan ingat dalil. Ya. Anda punya itu. Mari!

Mulailah kita buang gengsi itu. Karena gengsi akan ilmu kelak akan mempermalukan kita di depan orang-orang yang dahulu kita remehkan.

Mulailah kita buang kemalasan itu. Karna kemalasan akan ilmu kelak akan menelanjangi kita didpn orang-orang bodoh, terlebih di depan orang-orang berilmu.

Ilmu takkan hinggap di jiwa yang malas. Jiwa yang malas itu seperti bangkai busuk, yang mana hal mulia semacam ilmu tak sudi dekati.

Apa yang kita fahami dan bekali dari hafalan kini, kelak akan jadi modal besar bagi kita untuk mendidik generasi kita.

Kita mungkin bukan seorang guru atau ustadz dari segi profesi formal, tapi kita murabbi bagi anak-anak kita kelak.

Benar. Kelak kita akan benar-benar merasa hafalan dan pemahaman yang ditunaskan sejak ini teramat berharga.

Mungkin kita akan menangis terharu ketika si kecil sejak kecil sudah hafal dalil-dalil, jauh melampaui ayah ibunya yang dulu bukanlah siapa-siapa.

Maka, hargailah terus upaya kita. Istiqamah dalam kebaikan. Jangan mau ketinggalan dan jangan hanya ditempat berjalan. Progres sudah terlihat.

Jadikan generasi kemudian jauh lebih baik dari generasi yang hampir berkesudahan.

[Dari, Facebook, Hasan Al-Jaizy]

Sudah cukupkah kata-kata itu memotivasi mu?

Inget, jangan hanya termotivasi tapi harus ada action dan perubahan setelahnya! *NgomongSamaKaca*

Dosen saya pernah bercerita, bahwa anaknya dirumah itu dalam sehari ada jadwalnya, misal jam segini sampai jam segini belajar apa.

Bahkan main gadget (internetan) itu juga ada jadwalnya, dalam sehari misal, cukup 3 jam.

Waktu habis, stop. Jadi dalam sehari, tidak ada waktu yang terlewat sia-sia, kaya mlongo, ptantang-ptenteng nggak jelas, karna dia sudah tau apa yang harus ia kerjakan.

Seketika mikir, kenapa nggak nyoba..

Kita punya waktu 24jam dalam sehari dipotong tidur 8 jam. Alangkah baiknya kalau sisanya itu kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat seperti menuntut ilmu.

Kita buat aja jadwalnya dikertas,

misal..

Dari jam segini sampai jam segini, waktunya menghafal.

Dari jam segini sampai jam segini, waktunya baca kitab.

Dari jam segini sampai segini, misal muroja’ah hafalan serta apa yang tadi kita baca.

Seru Juga!

Yuk bikin..

Untuk internetan/main gadgetnya, disela-sela waktu kegiatan aja, dengan kata lain kayak diwaktu istirahat. Kita juga harus sisihkan waktu barang 1 atau 2 jam untuk, istirahat, relaxin badan, sama otak kiki emoticon

Bukankah, semua jadi lebih baik & efektif kalau terjadwal? Kuncinya: Konsisten & Jangan dilanggar. -Dosen, Diakhir-akhir ceritanya-

Zadanallah ilman wa hirsha..

Semoga Allah mudahkan kita untuk mengamalkannya.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s