Ummu?

tumblr_l1vkjrKIsl1qzsw4qo1_500

Am, Umm, Am, Umm! Plz.. I am 19 years old and single happy *glasses emoticon* *Eaaak.

Belum nikah, belum punya anak. Belum lulus, maybe juga -Belum- pantes jadi ummahat..

Belum pantes jadi, Ummahat?

Maksudnya, jadi seorang ibu.. No.. No.. “Menikah”

Yap!

I dont know why..

Pertanyaan “Apa kamu sudah siap menikah?”

Adalah yang paling sulit saya jawab.

Kalau nggak “Belum” paling “Hmm.. Nggak tau”

Dan pasti itu mengundang pertanyaan selanjutnya, yaitu..

“Kenapa?”

Saya juga nggak tau kenapa..

Apalagi pertanyaan, “Kapan Nikah?” “Ayo dong nyusul”

Lebih nggak minat lagi saya jawab.

Begini sih, Saya merasa masih -Sangat sangat sangat- banyak ilmu yang harus saya pelajari (Dulu) Sebagai bekal, menjadi seorang ibu yang bisa atau tau, segala hal. Masih banyak target-target yang belum tercapai.

Walau saya tidak menutup kemungkinan, atau menutup diri, atau mengatakan bahwa menikah muda itu bukan hal yang baik.

Nggak kok..

Ini hanya kata lain dari “Sebelum Waktu Itu Tiba“

Karna kita kan nggak pernah tau apa yang terjadi besok.

Ya kan?

Saya hanya merasa, Ada baiknya kita siapkan ilmunya dulu. Tentu bukan hanya ilmu, Nikah dan Istri tapi ilmu yang lain juga.

Menikah itu -Insya Allah- ada saatnya kok. Allah yang lebih tau kapannya.

Jadi, menurut saya nggak perlu lah saban hari nulis status kode-kodean, atau yang berbau tulang rusuk, jodoh, cinta-cintaan dan sejenisnya.

Kurang enak juga dibaca, masa thalabul ilmu syar’i ngomonginnya cinta-cintaan mulu.

Ye nggak?

Menikah adalah ibadah, dan menjadi seorang istri dan ibu, adalah ladang amal bagi kita.

Terlebih anak, dia adalah investasi akhirat.

Jadi dibutuhkan ilmu sebelum amal.

Wanita walau tidak harus menjadi penceramah (Ustadzah) atau guru dia tetap wajib menuntut banyak ilmu, karna kelak ia akan menjadi ustadzah untuk anak-anaknya, maka layaknya seperti seorang ustadzah, kita harus banyak belajar dulu, sebelum kita ajarkan kepada anak kita.

Karna, kalau anak kita nanti tau ilmu agama dari orang lain. Sayang-sayang pahalanya.

Bahkan sekedar bismilah dan alfatihah -pun- anak saya harus tau dan belajar dari saya.

Saya juga nanti, -Insya Allah- nggak akan masukin anak saya kesekolah TK apalagi Paud, sampai dia hafal banyak doa-doa dan bahkan -Aamiin, insya Allah- beberapa juz dalam Kitabullah.

Tentu karna belajar dari saya. Bukan dari ustadz/ustadzahnya disekolah.

At least sampai usianya 5th baru saya lepas dia untuk belajar kepada seorang guru.

Maka sangat disayangkan kalau kebanyakan orangtua sekarang, usia 3th even baru bisa jalan dikit udah disekolahin.

Saya nggak tau sih, itu sebenernya gimana. Ini cuma sotoy aja 😉

Tapi yang saya lihat dan ini menurut pendapat pribadi, sayang banget. Padahal diusia segitu, itu adalah usia pembentukan karakter anak, bagaimana ia melihat akhlak dan pelajaran dari keluarganya dulu.

Saatnya ibu berperan banyak disitu. Kalau saya sih, ini kalau saya yaaa, ya itu tadi sampai dia setidaknya 5th karna usia segitu menurut saya anak sudah cukup mengerti sedikit banyak tentang tanggung jawab, dan sudah tertanam, apa yang ibunya ajarkan. Baru saya rela, ada wanita lain yang ikut serta mendidiknya.

Wanita lain?

Maksudnya Ibu Gurunya. -_-

Ini pengamatan kecil aja sih, karna saya sama sekali bukan sikolog anak, haha, jadi maaf aja kalau ngawur atau salah. bukan maksud berbicara sesuatu yang tidak diketahui ilmunya, hanya aja setiap orangtua (walau baru calon) pasti punya caranya sendiri dalam mendidik anaknya.

Dan saya bete aja liat sepupu saya, dia 3th sudah disekolahin. Kalau apa-apa lebih nurut apa kata Ibu Gurunya kebanding emaknya.

Kalau apa-apa, kata ibu guru, kata ibu guru..

Saya kalau jadi emaknya, nangis kokosetan.

kalau nanti yang saya mau, anak saya dengan bangganya mengatakan..

“Kata Ibuku… ” atau lebih kerennya “Ibuku pernah bilang.. qola Rasulullah sallaullahu allahi wa salam.. ” Beh.. itu baru anak ibu :’)

Dan dia juga dengan bangga mengatakan “Ayahku itu seorang yang hebat, dia begini, begini.. ”

Ini yang saya lihat ya, pada adik-adik saya dan saya rasakan sendiri,

Kalau anak itu cenderung, mengingat kata ibunya, dan mencontoh sikap ayahnya.

jangan sampai dikit-dikit dia berkata “Ustadzku orang yang hebat dia, begini, begini..” “kata ustadzah begini.. begini..”

duh, sakitnya tuh disini..

[Ada yang nggak setuju? Monggo… Sok teu nanaon.. ]

sabodoteing, sama kata psikolog dan motivator modern, kalau jangan memaksa kehendak anak, biar ia tumbuh sesuai apa yang dia mau.

kalau saya? no.. nggak bisa kaya gitu. Anak saya nggak bisa memaksa kehendaknya, nggak bisa melakukan apa-apa sesuai kehendeknya, nggak bisa menjadi apa yang sesuai nafsu dan keinginannya jika itu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

dia harus bisa menjadi apa yang orangtuanya harapkan yaitu sebagai penolong kami *Caelah-KAMI-* ke surga Allah.

Apalagi mengharamkan kata “Jangan” dengan alasan itu bisa melukai hatinya, atau menjatuhkan harga diri anak pada posisi bersalah, dan menutup pintu dialog.

dia harus tau bahwa dia adalah orang islam. dia harus tumbuh sebagai anak yang hidup dengan Al-Qur’an dan As-sunnah karna kedua pedoman itu telah sempurna dan mencakup banyak hal bahkan semua hal dalam hidup ini, dari yang terkecil hingga yang terbesar.

Memang, Ada banyak cita-cita dan ambisi didiri saya yang sudah saya siapkan untuk anak saya.

mungkin, para orangtua dan calon orangtua lain juga..

Semoga Allah mudahkan dan beri panjang umur.

Semua tidak bisa terjadi melainkan atas kehendakNya. Kita -saya- hanya manusia lemah, yang pemikirannya terbatas, kita hanya bisa berencana dengan tetap berserah diri kepada takdirNya.. tetap Dia Ar-Rahman yang Maha menentukan semuanya..

walau.. Terserah kalau orang-orang bilang saya banyak ngayal.

tapi ini hanya doa aja sih..

Jadi sebetulnya, Masalah Siap nggak Siap, Kalau Allah sudah berkehendak?

Kalau Allah sudah pertemukan? Ya harus siap.

Perempuan itu adalah mahluk yang paling unik dan pemalu.

Untuk masalah urusan hati.. ada hal-hal yang tidak perlu bertanya, Ya seperti itu tadi..

“Kamu sudah siap menikah?”

Wait.. Wait!

Kenapa jadi nyambung kemana-mana? Padahal status awalnya hanya sebagai notice bahwa saya belum seorang ummu (ibu)

Hmm.. Namanya juga wanita, nulis itu kaya ngobrol aja. Bisa panjang dan merembet kemana-mana. Itu kalau saya ya.. Nulis itu ibarat ngobrol.

Setelah status ini dibuat, kalau ada yang panggil saya, ummu ya nggak papalah, nggak usah bete, Saya anggap aja itu sebagai doa, untuk semoga Allah percepat.

Tidak apa, saya aamiinkan.

Jadi jika muncul..

“Izin share ya umm..”

nanti saya jawabnya bukan “silahkan..” lagi, tapi…

Aamiin..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s