Malulah kita kepada Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu

high-heels-tumblr-photography-3cclw6fc

kemarin ada seorang teman bercerita kepada saya, bahwa keluarganya terus mendesaknya agar membuka jilbabnya, seraya berkata..

“Kalau pakai jilbab terus kapan dapet kerjanya! ”

Mungkin kita miris mendengarnya, ya terlebih saya yang menyaksikan langsung kondisi keadaan keluarganya. Yang memang dulu sewaktu fulanah masih bekerja, beliau lah yang sedikit banyak membantu ekonomi keluarga.

Disela-sela obrolan kami, saya sempat menceritakan kisah sahabat Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu atas kegigihan nya mempertahankan keislamannya meski, ditawari tawaran yang menggiyurkan.

dengan tujuan agar kami dapat mengabil ibroh dari kisahnya.

Yang akan saya tulis kembali disini, tapi ternyata saya -gagal- merangkai ceritanya, maka saya salin dan ringkas kisahnya dari web KisahMuslim.

suatu hari -Atas izin Allah- salah seorang panglima kaum muslimin Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anu berhasil ditangkap oleh tentara romawi dalam peperangan diKaisariah, sebuah kota benteng di wilayah Palestina, tepatnya di tepi Laut Tengah.

Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu, mendapatkan tawaran yang sangat menggiurkan dari Raja romawi Heraklius.

Heraklius memulai dengan memberikan bujukan dan penawaran, satu per satu kepada Abdullah bin Hudzafah,

“Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka engkau akan mendapatkan harta yang engkau inginkan.”

tapi Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menolaknya..

“Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan menikahkanmu dengan putriku.”

Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu tetap tidak tertarik..

“Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan merekrutmu menjadi orang penting dalam kerajaanku.”

Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu tetap tidak tertarik.

Heraklius menyadari bahwa ia tengah berhadapan dengan bukan sembarang lelaki. Maka ia pun memberikan penawaran keempat. Ia berkata kepadanya,

“Masuklah ke dalam agama Nasrani, maka saya akan memberikan kepadamu separuh dari kerajaanku dan separuh hartaku.”

Akhirnya Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu memberikan jawaban yang tegas dan mematikan,

“Meskipun kamu memberikan kepadaku semua harta yang kamu miliki dan semua harta yang dimiliki oleh orang Arab, saya tidak akan kembali meninggalkan agama Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meskipun hanya sekejap mata.”

Hal tersebut membuat Herakilus marah, maka ia pun memaksa Ibnu Hudzafah dengan cara menyiksa, mengintimidasi, dan mengancamnya. Maka, seraya berkata kepadanya,

“Kalau demikian, saya akan membunuhmu?”

“Silakan kamu, melakukan hal itu.”

Kemudian Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu dijebloskan ke dalam penjara dan tidak diberi makan dan minum selama tiga hari. Sampai akhirnya Ibnu Hudzafah disuguhi arak dan daging babi agar ia memakannya. tapi, sedikipun ia tidak menyentuhnya sama sekali. Akhirnya sampai berhari-hari ia tidak makan dan minum hingga hampir mati.

Kemudian Heraklius mengeluarkannya dan bertanya kepadanya,

“Apa yang membuatmu enggan minum arak dan makan daging babi padahal engkau dalam kondisi terpaksa dan kelaparan?”

Ia menjawab,

“Ketahuilah! Kondisi darurat memang telah menjadikan hal tersebut halal bagi saya dan tidak ada keharaman bagi saya memakannya. Akan tetapi, saya lebih memilih untuk tidak memakannya, sehingga saya tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk bersorak melihat kemalangan Islam.”

Heraklius makin marah dan memerintahkan kepada anak buahnya agar mereka menyalib Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu pada kayu. Para pemanah siap-siap melesakkan anak panah dari posisi yang dekat darinya. Ia pun tetap bertahan.

Heraklius masih terus menawarkan agar ia memeluk agama Nasrani, tetapi ia tetap menolak. Kemudian ia diturunkan. Heraklius memerintahkan agar disiapkan air di dalam kuali besar dan dinyalakan api di bawahnya. Ketika air di dalam kuali telah mendidih, didatangkanlah seorang tawanan muslim, lalu ia diceburkan ke dalamnya, hingga dagingnya meleleh sehingga tersisa tulang kerangka. Kemudian tawanan muslim yang kedua diceburkan di dalamnya sedangkan Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu melihatnya.

ketika giliran Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu tiba untuk diceburkan ke dalam kuali besar, Ibnu Hudzafah menangis..

Akhirnya dilaporkan kepada Heraklius bahwa Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menangis maka, Herakilus kembali memanggilnya dan memberi tawaran kepadanya agar ia memeluk agama Nasrani.

Tapi ternyata Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu tetap menolaknya,

Heraklius mengira bahwa Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menangis karena ia takut mati serta menunjukkan bahwa ia mundur dari posisinya dan membatalkan ketetapan hatinya dan ia akan mengabulkan keinginan Heraklius

“Kalau demikian mengapa engkau menangis?”

ia memberikan jawaban yang menakjubkan, benar-benar melemahkan, dan menetapkan kegagalan dan kekalahan Heraklius,

“Saya menangis karena saya hanya memiliki jiwa sebanyak rambut saya, pastilah saya korbankan untuk menebus agamaku. Sehingga, semuanya mati di jalan Allah.”

Hingga, akhirnya Heraklius mengakui kekalahannya di hadapan Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu. Bahwa ia memiliki harta, pangkat, kekuatan, dan dunia berhadapan dengan seseorang muslim yang tidak bersenjata dan tidak menyandang apa-apa.

Heraklius berkata “Hai Ibnu Hudzafah! Maukah kamu mengecup kepalaku? Saya akan membebaskanmu dan melepaskanmu?”

Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu menjawab,

“Baiklah, dengan syarat engkau harus melepaskan semua tawanan kaum muslimin yang berada di dalam penjara kalian saat itu ada lebih dari 300 tawanan.”

Ibnu Hudzafah radhiyallahu ‘anhu pun bebas dan disambut oleh Umar radhiyallahu ‘anhu sambil mengecup kepalanya, lalu para sahabat lainnya mengikutinya.

La Hawla Wala Quwwata Ila Billah begitu kuat dan kokohnya islam didada Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu, begitu cintanya ia dengan islam, sampai jika seluruh harta orang arab diberikan kepadanya, ia tidak akan meninggalkan islam walaupun hanya sekejap mata.

Ikhwah..

Apakah kita termasuk orang yang mengadaikan agama kita demi sebuah pekerjaan, demi harta, demi tahta, demi sebuah jabatan, demi dunia, demi dunia?? yang Rasul sallaullahuallahi wa sallam katakan lebih hina dari pada seekor bangkai kambing yang cacat?

Maka, Malulah kita kepada Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu..

Apa tawaran itu lebih besar dari pada, menikahi putri seorang raja romawi?

atau Apa gaji yang diberikan perusahaan tersebut lebih banyak dan besar dari pada separuh harta kekayaan raja Heraklius?

perusahaan mana yang sanggup membayar upah sebesar itu?

Lalu kenapa hanya demi sebuah gaji 3jt perbulan atau bahkan kurang dari itu, banyak para muslimah yang melepaskan identitasnya, melepaskan tanda pengenalnya yaitu jilbab.

Maka, Malulah kita kepada Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu..

Terpaksa?

Terdesak?

Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu.. tidak memakan babi dan kha
mr padahal beliau sudah tidak makan selama 3 hari, dan jika pun beliau memakannya itu halal untuknya. Tapi dia tetap memilih untuk tidak memakannya walaupun dia harus mati, karna dia sama sekali tidak ingin melihat orang kuffar bahagia atas jatuhnya islam walaupun itu, halal baginya karna dalam keadaan terdesak.

Maka, Malulah kita kepada Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu..

Kita membiarkan sedikit demi sedikit, satu per satu, sehasta demi sehasta orang-orang kafir melucuiti keislaman kita.. Dimulai dari jilbab, lalu memakai atribut mereka, sampai ikut merayakankan dan mengucupkan hari raya mereka..

Sampai kapan orang islam selalu direndahkan, jadilah muslim yang berprinsip lihatlah betapa umat terdahulu dari orang-orang yang pertama memeluk islam, para sahabat radhiyallahu ‘anhuma telah mengorbankan Harta, waktu, bahkan nyawa mereka korbankan demi islam, demi keislaman dirinya, demi kepentingan umat islam.

Bahkan setiap dari mereka, Allah berikan cobaan yang luar biasa, Allah berikan ujian yang mungkin jika itu menimpa kita, kita tidak akan sanggup.. tidak seberapa dibanding yang menimpamu,

Maka malulah kita kepada mereka..

wahai akhwat..

kebahagian apa yang telah engkau dapatkan dari uang sebesar 3juta rupiah, atau bahkan kurang dari itu..

Kita punya Allah yang maha kaya..

taukah kita ketika kita mulai yakin bahwa dengan jilbab rejeki kita sulit atau kita beralih dengan yang haram, maka itu berarti kita telah berburuk sangka kepada Allah..

waliyazubillah..

Yakinlah, ini sama sekali bukan terdesak, ini sama sekali bukan darurat, karna engkau masih punya banyaak pilihan, masih banyak pekerjaan lain.. masih banyak yang halal..

Meninggalkan sesuatu karna Allah itu indah, tapi meninggalkan Allah karna sesuatu itu musibah.

cukuplah kisah para salaf menjadi contoh bahwa meninggalkan sesuatu karna Allah itu berbuah manis..

Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu mengajrkan kita bahwa keislaman itu tak ternilai harganya bahkan lebih berharga dari apapun, bahkan dari pada nyawa kita sendiri.

Maka malulah kita kepada Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu

Jika hanya karna sebuah pekerjaan yang gajinya tidak seberapa, jika hanya sebuah jabatan yang tidak begitu penting, kita meninggalkan islam, kita menggadaikan keislaman kita.. kita melepaskan identitas keislaman kita..

Malulah kita kepada Abdullah bin Hudzafah radhiyallahu ‘anhu..

“Nggak kok gue nggak bakal lepas jilbab tenang aja haha.. ” -Katanya diakhir obrolan kami.

-Semoga Allah istiqomahkan kita dengan pakaian ketakwaan ini-

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s