Al‬-Qur’an Adalah Obat Yang Paling Mujarab

tumblr_njnrieVygp1t0fdvmo1_500

Kitab Ad Daa Wa Ad Dawa

Pemateri: Ustadz Hasan Al-Jaizy Hafizahullah.

‪#‎Al‬-Qur’an Adalah Obat Yang Paling Mujarab

Kitab Ad Daa Wa Ad Dawa adalah salah satu kitab Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang membicarakan tentang Takziatun Nufush (Membersihkan Jiwa) Ibnu Qayiim Al-Jauiziah adalah salah satu ulama yang punya andil atau memiliki kelebihan dalam menyihir manusia melalui tulisan diantaranya adalah kitab ini.

Kitab Ad Daa Wa Dawaa ini lebih condong berbicara tentang maksiat dan dosa juga akhir-akhirnya tentang cinta dan mabuk asmara.

Tapi,

Tenang aja karna ustadz nggak bahas yang terakhir wink emoticon

Yang jomblo pada teriak *Yaaaah* hahaha..

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Rahimahullah

Suatu ketika ditanya,

“Apa nasehat dan saran para ulama kepada seorang yang tengah ditimpa suatu cobaan.. Sementara orang itu menyadari apabila cobaan tersebut terus berlangsung, maka ia akan merusak dunia dan akhiratnya..”

(Jadi orang ini telah berusaha dengan segala daya dan upaya untuk melawan/keluar dari musibah tersebut namun cobaan tersebut justru bertambah parah dan kian meraja rela, maka bagaimanakah caranya?)

“Semoga Allah melimpahkan rahmatnya, kepada seseorang yang membantu sesamanya yang tengah tertimpa becana, sebagaiman yang disebutkan dalam hadits shahih..”

Kemudian Ibnul Qayyim Rahimahullah menulis jawaban..

Alhamdulilaah ama ba’du, Dalam hadits shahih bukhari nomor 5354 tercantum sebuah hadits dari Abu Hurairoh, bahwasanya Nabi sallaullahu allahi wa sallam bersabda,

“Ma Anzalaullahu Daa’an illa’aanzala lahu Syifaa’an”

“Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit melainkan dia juga menurunkan obatnya.. ”

Jadi ini adalah salah satu perkara aqidah (keyakinan) kita terhadap Allah.
Disebutkan juga dalam shahih muslim nomor 2204 dari Jabir Bin Abdillah dia mengatakan bahwa Rasulullah sallaullahuallahi wa sallam bersabda,

“Likullii Daa’in Dawaaun.. Faiidza Ushiyba Dawaa’u Aldaa’i Baro’a Biiidznillah..”

“Setiap penyakit ada obatnya, apabila obat tersebut sesuai dengan penyakitnya maka ia akan sembuh dengan izin Allah”

Disebutkan pula dalam musnad Imam Ahmad, jilid ke-4 halaman 278 dari Usamah Bin Syarik bahwasanya nabi sallaullahuallahi wa sallam pernah bersabda,

Iina’allaha Lam Yanzil Daa’an Iilaa’a Wa’anzal Lahusyifaa’an, Aalimahu Man Aalimahu Wa Jahilahu Man Jahilahu

“Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Allah juga menurunkan obatnya. Ada orang yang mengetahui ada pula yang tidak mengetahuinya.”

Tapi tidak semua penyakit diketahui obatnya oleh semua manusia, bisa saja ada penyakit yang hingga kini mungkin orang belum tau satupun obatnya, tetapi yang harus kita yakini bahwa pasti ada obatnya, kita saja manusia terbatas pengetahuannya.

Karna jika pengetahuan seluruh manusia dikumpulkan dari manusia pertama Adam sampai manusia terakhir, itu tidak akan menyamai pengetahuan Allah dalam hal apapun.

Penyakit itu terbagi menjadi tiga, penyakit yang terdapat dihati, roh, dan badan. Penyakit roh kembali kepada penyakit hati dan banyak kasus penyakit badan juga kembali kepada penyakit hati, hati yang dimaksud disini adalah jantung bukan hati (liver) karna jantung adalah yang mengatur/memerintahkan segala anggota tubuh.

“Sesungguhnya dalam jasad kita ini ada satu segumpal daging, jika daging itu baik maka jasadnya akan baik, kalau buruk maka akan buruk, dan itulah qalbu (jantung)”

Jika badan sakit maka hati akan bekerja, tapi jika hati yang sakit maka ini yang sulit.

Al-Qur’an merupakan obat, hal ini telah dijelaskan oleh Allah dalam firmannya

وننَزِّلُ مِنَ القرآنِ مَا هُوَ شفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ، وَلاَ يَزيْدُ الظالِمِيْنَ إلاَّ خَساراً

“Dan Kami turunkan dan Al-Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman,” (Al-Israa’: 82).

Diantara rahmat dalil dalam Al-Qur’an ketika seorang mukmin membaca Al-Qur’an mesikupun dia tidak paham artinya tetapi terasa dan meresapi padahal dia tidak paham, maka itulah rahmat.

Sebagaimana yang dijelaskan pada dalil sebelumnya bahwa Al-Qur’an adalah obat, penawar bagi hati dari penyakit keraguan dan kebimbangan. Al-Qur’an sebagai obat itu sudah mujarab dan dicoba oleh orang dari zaman ke zaman,

Ada sebuah riwayat dari kitab Ash-Shahihain (kitab dari shahih Bukhari dan Muslim)

Dari Abi Said Al-Qudri dia berkata, bahwa sebagian sahabat nabi pernah mengadakan perjalanan, ketika tiba disebuah perkampungan arab merekapun meminta penduduknya untuk menerima mereka, memberi tumpangan dan menjamu mereka, akan tetapi penduduk dusun menolaknya.

Tidak lama kemudian, ternyata kepala dusun tersebut tersengat kalajengking, penduduk dusun segera mengobatinya, namun usaha mereka tidak berhasil, sebagian mereka menyarankan,

“Coba kalian datangi rombongan tadi, mungkin saja diantara mereka ada yang membawa sesuatu”

Penduduk kampung pun mendatangi sahabat nabi yang sudah mereka tolak tadi, sambil berkata,

“Wahai pengembara.. Kepala dusun kami disengat kala jengking, kami sudah melakukan segala cara untuk menyembuhkannya namun tidak berhasil, apa diantara kalian ada yang punya cara untuk menyembuhkannya?”

Sebagian sahabat menjawab “Ya ada, Insya Allah.. ”

“Demi Allah saya mampu meruqiyah, tapi demi Allah kalian semua pernah menolak kami sebagai tamu, lalu ketika kalian butuh, kalian datang, tapi jika kalian memaksa, kami harus mendapat upah”

Akhirnya mereka sepakat untuk memberikan sejumlah kambing sebagai bayarannya.

Lalu sahabat tadi bergegas menuju kepala dusun lalu memberika tiupan yang diiringi dengan sedikit ludah diluka yang tersengat, seraya membaca Al-Fatihah.

Lalu kepala dusun itu seakan-akan terbebas dari ikatan, ia pun bangkit dan berjalan tanpa merasakan sakit lagi.

Setelah itu para sahabat mendatangi Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam untuk menceritakan kejadian tersebut, Rasul sallaullahu allahi wa sallam berkata,

“Bagaimana kamu mengetahui bahwa Al-Fatihah dapat dipakai untuk meruqiyah? Kalian telah melakukan hal yang benar, bagikan lah upah tersebut kepada semuanya..”

Inilah bukti, bahwa Al-Qur’an, bahwa ruqiyah bisa menjadi obat untuk penyakit,

Ustadz juga menyampaikan cara meruqiyah diri sendiri, untuk sakit yang ringan seperti pusing.

Misal kita pusing, kepala terasa sakit seperti ada sesuatu yang berat, maka bacalah surat Al-Fatihah dengan keyakinan yang benar-benar sambil memegang tempat yang sakit, insya Allah akan disembuhkan cepat atau lambat.

Atau baca surat-surat yang mampu untuk meruqiyah seperti, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Kafirun, Al-Baqarah terutama Ayat Kursi, pegang kepalanya lalu tarik seolah-olah seperti mengeluarkan sesuatu, jika semakin pusing.. Maka terus baca, jangan berhenti karna itu berarti jin tersebut sedang bereaksi, terus baca dan lawan. Jika sampai muntah itu lebih bagus.

Ibnul Qayyim berkata obat tersebut Al-Fatihah telah memberikan dampak positif terhadap penyakit yang tertera dalam kisah diatas (maksudnya kisah sahabat nabi sallaullahu allahi wa sallam) lalu menghilangkannya secara total hingga seolah-olah penyakit tersebut tidak pernah ada sebelumnya, ini adalah obat termudah. Seandainya seseorang mampu mempergunakan Al-Fatihah dengan baik tujuan pengobatan niscaya dia akan melihat efek penyembuhan yang menakjubkan.

Saya (Ibnul Qayyim) pernah tinggal dimekah beberapa waktu, pada saat itu saya terkena sejumlah penyakit tanpa bisa mendapatkan obatiobatan ataupun seorang dokter akhirnya saya mengobati diri sendiri dengan Al-Fatihah dan merasakan efeknya yang benar-benar menakjupkan, pengalaman ini pun saya ceritakan kepada orang-orang yang tengah mengeluhkan penyakit yang telah mereka derita sehingga kemudian banyak dari mereka yang sembuh dalam waktu singkat.

Namun yang harus dipahami dan diperhatikan, dzikir atau ayat-ayar Al-Qur’an ataupun obat-obatan yang digunkan untuk meruqiyah tetap saja mempunyai ketergantungan terhadap tubuh yang kondusif serta bergantung pada semangat dan pengaruh efek yang kuat dari pihak yang mengobati. Jadi ada dua yang yang perlu diperhatikan, pertama dari pasiennya, kedua dari yang mengobatinya.

Dari sisi pasiennya dia harus sedia menerima obat tersebut dan juga jika dari segi fisik dia harus siap diobati.

Seperti kesurupan, kesurupan itu setengah sadar tapi dia tidak bisa menguasai dirinya, melainkan dirinya dikuasai oleh Jin, namun jika seorang itu yakin dia bisa, insya Allah untuk mengularkan setan tersebut itu dengan kuasa Allah bisa keluar dengan sendirinya.

Sebagaimana jika kita tidur suka mengalami ketindihan itu bisa disebabkan dua hal, bisa disebabkan karna fisik (kecapekan), bisa juga karna setan, dan ini yang paling sering. Kita sudah bangun tapi mau bergerak sulit, itu sebetulnya mata fisik kita terbuka tapi mata ruhnya tertidur, maka kita pelan-pelan baca dalam hati, insya Allah perlahan-perlahan akan hilang.

Atau ketika subuh, kita terbangun lalu ketiduran sebentar didalam mimpi kita seolah-olah sudah sholat, maka ketika bangun..

“Udah sholat belum yaa? Ah kayaknya udah.. ”

Akhirnya tidur lagi.

Itu artinya setan sudah kencingin kita atau kita sudah dililit oleh setan. Maka ketika itu terjadi, langsung ucapkan Ta’auz.

Terkadang kita juga mimpi buruk, itu sebenarnya kita sedang dirasuki oleh setan, misal jatuh dari ketinggian atau bertemu hewan buas, bertemu mahluk yang menyeramkan itu sebenarnya setan sudah masuk kedalam diri kita.

Maka untuk menghindari gangguan tersebut, sebelum tidur baca ayat kursi, an-nas, al-falaq, al-ikhlas, lalu usapkan kesuluruh tubuh.

Maka, hal ini sebagaimana juga terjadi pada obat-obatan dan penyakit fisik, efek penyempuhannya terkadang bisa hilang dikarenakan fisik penderita yang tidak sesuai dengan obat tersebut, mungkin karna pantangan atau alergi atau dikarenakan ada penghalang.

Nah seorang peruqiyah jika dia tidak menghayati dan bahkan tidak yakin itu akan sulit.

Ada seorang yang hafal 30juz ketika meruqiyah tidak ada efeknya, tidak ngaruh sama sekali, bahkan jinnya malah ketawa-ketawa dan mengikuti ayat-ayatnya.

Karna memang adakalanya doa tidak memberikan efek apapun, hal ini diakernakan doa tersebut lemah, misalnya doa tersebut adalah doa yang tidak disukai Allah yaitu doa yang mengandung permusuhan, atau kelemahan hati orang yang berdoa, serta tidak adanya ketundukan kepada Allah.

Atau juga karna disebabkan oleh hal-hal yang menghalangi doa tersebut, misalnya mengkonsumsi makan, makanan yang haram, atau doa dari orang yang dzalim, orang kafir, musyrik atau tertutupnya hati karna kemaksiatan serta kondisi jiwa yang terkuasai dan terkalahkan oleh kelalaian dan nafsu syahwat

Disebutkan dalam Al Muhadzab karya Al-Hakim, dari abu hurairoh bahwasanya nabi sallaullahuallahi wa sallam besabda “Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan bahwasanya doa kalian akan terkabul.. Ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak serius”

Misalnya seperti yang terjadi kebanyakan pada masyarakat kita, disuatu pengajian mingguan atau pengajian kematian, doa dipimpin satu orang dengan nada yang cepat, lalu asal diaamiinkan oleh jama’ahnya. Yang penting “aamiin” padahal bisa jadi dia tidak mengerti arti dari doa yang diaamiinkan, bahkan yang membaca doa tersebutpun boleh jadi juga tidak mengerti.

Nah seperti ini bagaimana Allah kabulkan?

Karna pada hakekatnya mereka tidak berdoa kepada Allah, doa semacam ini hanya doa mengulang, hanya karna hafal, karna terlalu seringnya didengar.

Maka kita harus memahami doanya, jangan sekedar “Aamiin” saja.

Justru doa dengan bahasa indonesia jauh lebih baik dari pada doa seperti itu, karna kita paham dan tau artinya. Karna yang penting dalam doa adalah hati, harus dengan penghadiran hati walaupun hanya diam dipojok/diujung, itu lebih baik dari pada berisik-berisik, teriak-teriak, tapi malah nggak serius dan jadinya terkesan seperti main-main dan mengejek, memang dikira Allah itu tidak mendengar?

Allah itu maha mendengar, cukup dengan penhayatan sendiri, tenang.. Itu jauh lebih baik dan khusyu.

Jadi bedasarkan hadits diatas doa adalah obat penawar yang mampu memberikan manfaat dan menghilangkan penyakit namun kelalaian hati kepada Allah dan mengkonsumsi barang-barang yang haram akan melemahkannya dan segaligus melenyapkan kekuatan doa tersebut.

Penjelasan ini senada dengan riwayat yang tercantum dalam hadits shahih muslim.

Dari Abu hurairoh bahwasanya Rasul sallaullahu allahi wa sallam berkata “Wahai sekalian manusia sesungguhnya Allah itu maha baik dan tidak akan menerima kecuali hal-hal yang baik”

Abdullah Bin Imam Ahmad menyebutkan dalam kitab Zuhud (karya Ayahnya) dahulu Bani Israil pernah ditimpa bencana sehingga merekapun keluar kesuatu tempat untuk berdoa kemudian Allah mewahyukan kepada nabinya untuk mengabarkan kepada mereka..

“Sesungguhnya kalian itu keluar dari dataran tinggi ini dengan badan yang najis, kalian mendadahkan tangan kalian kepada Allah, padahal badan kalian berlumuran darah dan dengannya kalian penuhi rumah-rumah dengan barang-barang yang haram, apakah kalian sekarang memohon pada saat murkaku kepada kalian telah bertambah, kalian hanya semakin menjauh dariku.. ”

Bersambung.. insya Allah.

Mohon maaf jika dalam penulisan dalil terdapat kesalahan, tolong kesedian teman-teman untuk mengoreksinya. Juga dalam penulisan yang lainnya.

saya segaja -berusaha- menuliskan lafadz haditsnya -dengan ejaan bahasa indonesia- agar kita semua bisa dan lebih mudah untuk menghafalnya. -semoga Allah beri kemudahan- karna biasanya kalau baca artikel ada text arabic sering kita (saya) lewati. hehe ketawan deh.

Kita jangan hanya selalu menuntut dalil dari seseorang “mana
dalilnya?” tapi ketika kita kembali ditanya “mana dalilnya? seperti apa bunyinya?” jawabnya hanya “Ada haditsnya shahih, ada diAl-Qur’an jelas..” just it, karna ternyata lupa dalilnya. karna tidak menghafalnya. *noteself* *nunduk*

Ustadz Hasan Al-Jaizy Hafizahullah pernah menyampaikan dikajian kitab tafsir Al-Aisar -Kalau tidak salah-

kira-kira begini,

“Kita harus menghafal dalil-dalil sebab itu adalah peta, peta terhadap fase-fase dalam kehidupan dan kematian, sehingga nanti misalnya ada orang kafir atau orang awam bertanya, kita punya peta, dan hafal petanya, bisa menuturkan dan menjelaskannya maka itu bisa menjadi pengantar hidayah yang terbaik, karna jika ditanya jawabannya tanpa dalil, orang hanya akan berpikiran bahwa itu hanya pendapat kita, tapi jika menuturkan ayatnya dengan arabic langsung, orang akan melihat kesungguhan kita dalam menghafal dan memahami dalil tersebut, maka hafalkan dalil-dalil meskipun sedikit..”

Lumayan misal satu hari satu dalil, satu pembahasan yang kita hafal.

Mungkin ini terlihat sederhana, tapi hal sederhana inilah yang akan jadi penyesalan kita nanti jika kita nggak kita lakukannya dari sekarang.

semua itu akan terasa ketika kita mulai sering berkumpul bersama akhwat-akhwat yang berilmu, akan terasa ketika kita memiliki anak, kelak anak kita bisa hafal banyak dalil karna kita sendiri yang mengajarkannya, karna seringnya mendengar ibu bapaknya menyertakan dalil dalam memberikan nasihat dan ilmunya.

akan seperti apa bahagianya?

Adakah kebahagian yang lebih membahagiakan bagi seorang ibu, selain ia mampu mendidik anaknya hingga anak tersebut bisa hafal Al-Qur’an serta banyak hadits diusia dini, punya akhlak, agama dan prestasi yang baik?

Maka lakukanlah hal sederhana ini, yang akan menjadi hal yang luar biasa dikemudian hari.

Semoga Allah yang Maha hidup, pemilik arasy yang agung, menerima upaya ini dengan penerimaan yang baik, juga menjadikan ilmu kita ilmu yang bermanfaat dan dimanfaatkan.

semoga tulisan ini bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s