Doa Senjata Orang Mukmin

tumblr_mevk75FuKj1qapk2qo1_500

Masih dari kajian kitab Ad Daa Wa Ad Dawaa.

Pemateri: Ustadz Hasan Al-Jaizy. Lanjutan yang kemarin.

Bismillah..

Pembahasan yang kedua, ustadz membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan doa, bahwa doa adalah obat yang sangat bermanfaat sekaligus musuh bagi bencana.

Kita hidup didunia ini pasti penuh dengan ujian dan banyak ragamnya. Baik itu ujian berupa kesehatan, keilmuan, kekayaan, ataupun sebaliknya, seperti sakit, musibah, kebodohohan. Jadi setiap detik dari kehidupan kita itu dipenuhi dan diliputi oleh ujian. Baik hal yang positif atau pun negatif.

Dan doa adalah obat yang sangat bermanfaat, sekaligus musuh bagi bencana.

Bencana itu beragam, bahkan salah satunya banyak bencana yang mungkin sering kita tidak sadari, bencana yang ada didiri kita. Misalnya kita tidak bisa meresapi ayat Allah, kita membaca Al-Qur’an terasa, tapi tidak ada bekasnya, tidak ada faedahnya, tidak terserap, dan ini adalah bencana yang sering tidak disadari kebanyakan orang.

tapi jika kita sudah menyadarinya, itu bagus berarti sudah masuk step I, lalu step selanjutnya adalah bagaimana kita mengalahkan bencana itu, tentu nggak bisa hanya sekedar berusaha tanpa adanya doa, karna untuk menghilangkan/mengalahkan bencana tersebut kita harus punya senjata, yaitu doa. Agar bencana tersebut dihilangkan oleh Allah ta’ala.

Ibnul Qayyim berkata, Dia (doa) akan memerangi, mengobati, mencegah serta mengilangkan bencana yang menimpa kita, dan yang memerangi serta mengobati adalah Allah ta’ala. Oleh karena itu doa disebut sebagai senjata orang mukmin, karna orang yang tidak punya berbekalan dia tidak akan bisa memberi, apalagi sampai kepada tempat yang ia tuju. Maka dia harus punya perbekalan berupa senjata ketika bersafar didunia.

Nah senjata dan perbekalan tersebut adalah doa.

Seorang pasukan tanpa adanya senjata maka tidak akan bisa apa-apa, begitu juga dengan kita, yang sebenarnya kita semua ini didunia sudah terlatih untuk menghadapi musibah, tapi jika tanpa senjata (doa) bagaimana bisa menghadapi itu semua.

Makna dari doa adalah menyeru atau memanggil, jadi intinya kitalah yang memerlukan Allah ta’ala dengan doa tersebut, jadi ketika kita berdoa kita menyeru Allah untuk melawan hal-hal yang buruk dalam kehidupan kita.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan Al-Hakim (seorang ahli hadits) Hadits ini lemah, tapi maknanya baik.

“Doa adalah senjata kaum muslimin dan tiang agama serta cahaya langit dan bumi”

Ketika bersanding dengan musibah doa mempunyai 3 kondisi, pertama doa lebih kuat dari pada musibah, maka dari itu doa mampu mencegah terjadinya musibah, doa memiliki 3 kondisi,

kondisi yang pertama, doa lebih kuat dari pada musibah, maka doa tersebut mampu mencegah musibah, berarti untuk mencegah dan melawan musibah, syarat yang pertama adalah doanya harus kuat. Kuat penghayatannya, pemaknaannya juga tente kuat keyakinannya bahwa doa tersebut akan Allah kabulkan.

kondisi doa yang kedua, doa lebih lemah dari pada musibah, lemah penghayatan serta lemah keyakinan, akibat doanya terkalahkan maka musibahpun menimpa orang tersebut, meskipun sedikit, karna setidaknya orang ini masih mau berdoa, sehingga doanya mampu meringankan bencananya.

kondisi doa yang ketiga ialah doa dan musibah saling menyerang.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al Mustadrak (I/492)

dari Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam bersabda:

“Sikap waspada tidak mampu menolak takdir. Doa akan memberikan manfaat kepada hal-hal yang telah terjadi dan belum terjadi. Pada saat musibah itu turun, doa segera menghadapinya. Keduanya lantas saling bertarung hingga hari kiamat.”

(wallahua’lam saya kurang tau derajat haditsnya, karna memang ada beberapa hadits yang ustadz sebutkan ternyata hadits itu dha’f tetapi maknanya benar)

Jadi doa akan segera menghaapi apabila musibah itu turun, misal kita dari awal udah mendoakan anak kita agar menjadi anak yang shalih/ah bahkan jauh sebelum ia lahir, maka kelak ketika musibah datang, sepeti teman yang buruk, pergaulan maka doa akan segera menghadapinya.

Dalam kitab Al Mustadrak (I/492) karya imam Al-Hakim, dari sahabat Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam bersabda..

“Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa, tidak ada pula yang dapat menambah usia kecuali kebaikan..”

sebagian ulama telah menafsirkannya, jadi maksudnya adalah tidak ada yang dapat memperbaiki keadaan kita kecuali doa terhindar dari hal buruk yang tadinya hal buruk akan terjadi maka keadaannya Allah rubah menjadi baik, karna doa. Juga tidak ada yang mampu menambahkan usia kecuali kebaikan, maksudnya adalah, sebagian ulama menafsirkan usia itu tidak melulu bahwa usianya itu benar-benar panjang, misal sampai 100tahun, tapi usia bisa saja ditafsirkan sebagai rizki.

Maka kita lihat banyak orang yang bunuh diri, lebih banyak disebabkan karna kesempitan rizkinya, utang dimana-mana bawaannya mau mati aja dah. “Mati aja dah mendingan” Ceunah.. grin emoticon

Bandingkan dengan orang yang Allah beri kelapangan rizki, hidupnya seolah panjang, karna setiap hari mau kemana-mana enak, mau makan apa aja enak.. orang kaya ya kan.

maka jika kita ingin panjang umur dan rizki lapang sambunglah terus silaturahim. Juga terus berdoa.

orang yang Allah beri kelapangan rizki serta kesempitan rizki, sama ibaratnya seperti orang yang berdoa dan tidak berdoa, orang yang senantiasa bedoa juga usianya pangjang, karna dia senantiasa berdoa, walaupun misalnya usianya tidak panjang, tapi hidupnya seolah-olah abadi, karna dia senantiasa mempergunakan hidupnya untuk kebaikan, misalnya sedekah, sedekah itu bisa sedekah harta bisa sedekah ilmu,

misalnya fulan usianya hanya sampai 30th tapi selama 30th tersebut fulan menggunakan usianya untuk kebaikan seperti mendirikan majelis ta’lim, dan membagikan ilmunya dimejelis tersebut, majelis ta’lim tersebut tetap lestari dan eksisi bahkan sampai puluhan tahun setelah fulan wafat, maka fulan seolah-olah umurnya abadi, dikarenakan pahalanya terus mengalir.

Tapi juga harus ada hal-hal yang diperhatikan, seperti dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah.

”Sesungguhnya seorang hamba bisa tertahan Rizkinya karena dosa yang dilakukannya.”

(Tafadhal.. yang hafal/tau lafadz haditsnya mohon tulis dikomentar agar bisa kita hafalkan sama-sama seperti ditulisan yang sebelumnya)

Jadi silahkeun kita intropeksi. sehingga tetap berhuznuzan kepada Allah.

Dosa yang dikerjakan bisa menghalangi rizki, dalam aqidah ahlussunnah wal jam’ah yang namanya rizki itu bukan hanya yang kita makan juga bukan hanya rizki anaknya abu dan ummu rizki tongue emoticon tapi juga yang kita pakai, kita punya dan yang kita dapatkan, baik rizki yang didapat secara halal atau dengan cara yang haram.

Rizki halal itu ada dua, rizki yang secara dzat halal dan rizki yang didapat dengan cara yang halal, sedangkan rizki haram ada tiga, rizki yang secara dzat haram seperti khamr dan daging babi, lalu rizki yang secara dzat halal namun mendapatkannya dengan cara yang haram seperti mencuri, dan rizki yang secara dzat haram dan mendapatkannya dengan cara yang haram, misalnya si entong nyuri duit emaknya buat beli rokok. nah si entong berlipat ganda deh tuh dosanya.

setelah membahas panjang lebar mengenai masalah rizki, kemudian ustadz membahas, mengenai masalah adab-adab dalam berdoa, bagaimana agar doa tersebut dikabulkan oleh Allah.

Yang pertama adalah, terus menerus dalam doa, sikap terus menerus dalam doa termasuk obat penawar yang sangat bermanfaat. Jadi berdoanya jangan hanya sekali, jangan hanya ketika tertimpa kesulitan tetapi juga dalam kelapangan, karna Allah akan mengingat kita tatkala kita berdoa dalam kelapangan, Allah pun akan membantu kita dimasa kesulitan.

Ibnu majah dalam sunnannya, meriwayatkan sebuah hadits, dari Abu Hurairah bahwasanya Rasul sallaullahu allahi wa sallam bersabda,

“Man lam.. yas’alillah yagdob allaih..”

“Barangsiapa yang tidak meminta kepada Allah, Allah akan murka kepadanya..”

-monggo dihafal, karna pada bagian ini ustadz membuka sesi menghafal, perkata permakna-

Disebutkan pula dalam shahih al-hakim dari Anas bin Malik radiallahu anhu bahwasanya nabi sallaullahu allahi wa sallam bersabda,

“Ata’jizuu Fi A’du’aa ii Fai’iynnahu Lan Yahlika Ma’a Addu’aa ii Ahadunn..”

“Janganlah kalian lemah dalam berdoa karna sesunguhnya tidak ada orang yang binasa karena beroa..”

karna memang terkadang orang yang berdoa itu, doanya lemah, lemah disini adalah lemah penghayatan serta keyakinan, seringnya merasa tidak yakin bahwa doa tersebut akan dikabulkan oleh Allah, jadi jangan pernah lemah, teruslah yakin dan berhusnuzan kepada Allah bahwa Allah ta’ala akan mengabulkan doa kita, meskipun itu sudah berkali-kali.

Dalam kitab az-zuhud karya imam ahmad disebutkan Qatadah bercerita Muwarriq berkata,

“Saya tidak pernah mendapatkan suatu perumpamaan bagi orang mukmin yang berdoa melainkan seperti seorang diatas kayu yang tengah mengapung dilautan, kemudian dia berdoa berharap semoga Allah menyelamatkannya..”

Maka orang seperti ini akan sangat sungguh-sungguh dalam berdoa, inilah permisalan seorang mukmin ketika berdoa, penuh kesungguhan.

point selanjunya adalah tidak tergesa-gesa dalam berdoa, salah satu kesalahan yang dapat menghalangi doa adalah ketergesa-gesahan seorang hamba dalam berdoa, doanya cepet-cepet tidak ada penghayatan tetapi ingin cepat dikabulkan.

Padahal Allah menginginkan kelembutan dan kekhusyuan dan penghayatan doa terhadapnya.

sampai akhirnya hamba tersebut merasa jika doanya lambat dikabulkan, dan ia pun merasa jenuh dan letih hingga akhirnya meninggalkan doa.

Orang yang suka meninggalkan doa, biasanya itu disebabkan karna doa-doanya selama ini tidak ikhlas, karna kalau memang orang tersebut benar-benar ikhlas menghayati serta menimani doa tersebut dia tidak akan berputus asa dalam berdoa.

Ibarat seorang yang menanam benih tanaman, ia jaga, ia sirami setiap hari, namun karna merasa terlalu lama menunggu hasilnya ia pun membiarkan dan meninggalkan tanaman tersebut.

Bayangkan kalau semua petani mempunyai sifat putus asa tersebut akan jadi apa dunia?

nah, petani sama tanaman aja yakin dan percaya bahwa akan tumbuh dan panen, kita sama Allah masa nggak percaya?

Dalam shahih Al-Bukhari terdapat sebuah riwayat dari Abu hurairah bahwasanya rasulullah sallaullahu allahi wa sallam bersabda,

“Doa dari kalian akan dikabulkan selama dia tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata “Saya sudah berdoa tetapi belum juga dikabulkan”

Dalam kitab Shahih Muslim 2735/92,

“Senantiasa doa seorang hamba dikabulkan selama dia tidak memohon suatu dosa, memutus silaturahmi dan tidak tergesa-gesa.” Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Apa arti tergesa-gesa (dalam berdoa)?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang berdoa tersebut mengatakan, ‘Saya telah berdoa. Dan saya benar-benar telah berdoa, tetapi Allâh Azza wa Jalla tidak mengabulkan doaku.’ Kemudian dia berhenti berdoa dan meninggalkannya.”

Dalam Musnad Imam Ahmad, dari anas bin malik dia berkata, Rasulullah sallaullau allahi wa sallam bersaba,

“Laayazalu.. abdu bi khairin ma lam yasta’jil..”

“Seorang hamba akan berada dalam kebaikan selama ia tidak tergesa-gesa”

Point selanjutnya adalah, berdoa diwaktu-waktu yang mustajab. seperti disepertiga malam terakhir.

Jadi doa itu akan dikabulkan jika didalamnya berkumpul kehadiran hati, lalu konsentrasi secara penuh dengan apa yang diminta, dengan penuh kesabaran serta ke yakinan dan bertepatan dengan waktu yang mustajab.

dan yang sudah dibahas ditulisan sebelumnya, juga menghindari yang haram serta doa tersebut tidak mengandung keburukan.

Wallahuta’ala a’lam.

semoga bermanfaat. Allahu waliyyut taufiq.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s