Kajian Kitab Bulughul Maram: Hadits ke-207

tumblr_l5ebjjJNfI1qc160zo1_500

“Yang Dibaca Ketika Mendengar Muadzin Mengumandangkan Adzan”

Pemateri: Ustadz Zainal Syamsudin, Hafizahullah.

Adzan menurut bahasa adalah “al-i`lam” (pemberitahuan) adapun menurut istilah adalah memberitahu akan masuknya waktu sholat dengan kalimat khusus.

Hadits ini dari Abu Sa’id Al-khudri atau Malik Ibnu Sinan, dia adalah seorang sahabat Al-Anshar Nabi sallaullahu allahi wa sallam. Abu Sa’id Al-Khudri banyak memiliki riwayat diantaranya hadist ini, yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya, serta Imam Muslim dalam Kitabussholah. Beliau meninggal pada tahun 74H.

Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam bersabda “Kalau seandainya semua orang tau rahasia adzan, kemudian tau rahasia shoft pertama, kemudian dia tidak menemukan kecuali dengan cara undian, maka ia akan melakukan undian”
Terkadang manusia itu cenderung lebih mendahulukan apa yang sekarang ini dicintai oleh manusia dari pada Allah, sehingga fadilah menjawab adzan, perintah Rasul sallaullahu allahi wa sallam, sering terlantar, sering tidak dihiraukan, banyak yang tetap asyik bicara yang tidak penting tatkala adzan dikumandangkan.
Padahal Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam, Aisyah berkata, “Kami setelah sholat itu saling berbicara dengan Rasulullah tapi ketika mendengar adzan seakan-akan tidak mengenal”

Masya Allah,

Lalu bagaimana menjawab Adzan yang sesuai denga tuntunan sunnah?

Menjawab adzan ada beberapa khilaf diantara ulama, apakah kita jawab seperti yang telah diucapkan muadzin? Ada sebagian ulama yang mengatakan ya! tetapi yang lebih shahih ada pengecualian terutama ketika muadzin mengucapkan “Hayya Alash Shalaah..” Dan
“Hayya Alal Falaah..”

Dalam hadits Rasul sallaullahu allahi wa sallam, dikecualikan, seperti yang ditulis abdurajag dalam kitabnya dari Ibnu Juraij bahwa jawabannya adalah “Masya Allah” Ketika muadzin mengumandangkan “Hayya Alal Falaah..”
Jadi jika “Hayya Alash Shalaah” jawabnya “laa haulaa wallaquata illa billah..” Lalu ketika “Hayya Alaa Falaah.. ” Jawabnya “Masya Allah”

Hikmahnya, ketika kita dipanggil, “Hayya Alash Shalaah..” Kita tidak menjawab dengan hal serupa, tapi kita jawab dengan “Laa hawla walla quata illa billaah..” Adalah,

Pertama “Hayya Alash Shalaah..” Itu adalah tugas muadzin, fungsi utama dari adzan adalah mengajak manusia untuk sholat, adapun kita yang menjawab dengan lirih, dengan kalimat “Laa haula walla quata illa billah” memohon agar diberikan kekuatan untuk memenuhi panggilan sholat, karna tidak ada daya, tidak ada kekuatan untuk memenuhi panggilan sholat kecuali karna bantuan Allah.

Ustadz menyampaikan boleh menjawab “La hawla walla quata illa bilah” boleh juga ditambahkan menjadi “La haula walla quata illa billahil aliyyil azim”

Dipertemuan yang kedua, ustadz menerangkan tentang sebuah hadits dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu’anhuma, yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari walaupun tidak disebutkan oleh Imam Ibnu Hajar didalam Bulughul Maram.

Haditsnya yaitu jawaban Mu’awiyah Bin Abu Sufyan ketika menjawab Adzan..
Ketika muadzin mengatakan “Allahu Akbar… Allahu Akbar.. ” Mu’awiyah “Allahu Akbar..” “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah..” Mu’awiyah menjawab “Wa Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah..”

“Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah..” Mu’awiyah menjawab “Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah..” Ketika Muadznin mengakatakn “Hayya’ Alash Shalaah..” Mu’awiyah menjawab “La haula wala
quwatta illa billah..” Juga ketika “Hayya’ Alal Falaah..” Mu’awiyah menjawab “La haula wala
quwatta illa billah..”

Kata Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu’anhuma “Beginilah saya mendengarkan nabi kalian menjawab Adzan”
Berarti apa yang diucapkan oleh Mu’awiyah bisa menjadi sunnah/dalil untuk kita dalam menjawab adzan.
Jadi kesimpulannya: Ketika “Hayya Alal Falaah…” Boleh dijawab dengan “La haula wala
quwatta illa billah..” Boleh juga dengan “Masya Allah..”

Lalu ustadz menjelaskan tentang siapa yang harus menjawab adzan dan dalam kondisi apa boleh menjawab adzan,
Yang pertama, adalah semua orang dianjurkan menjawab adzan, baik seorang yang hadir sholat berjama’ah atau yang mendengarkan adzan dijalan, atau mendengarnya dari rumah atau wanita yang sedang haid maupun nifas, kecuali di dua tempat, dalam keadaan diWC/Kamar mandi dan dalam keadaan sedang berhubungan suami istri.
Lalu ketika kita mendengar banyak adzan, manakah yang lebih didahulukan?

Yang pertama adalah adzan dimasjid yang akan kita tempati untuk sholat berjama’ah , kemudian setelah itu yang mana saja yang kita dengarkan adzan.

Lalu jika terlewat bolehkan meng-qadha menjawab adzan?

Menurut pendapat yang shahih, boleh karna saking besarnya fadhilah menjawab adzan, jadi kita dianjurkan mengulanginya lagi dari awal kecuali jika jarak pemisah antara adzan dan jawabannya itu sudah sangat jauh, umpanya sudah sampai sholat 2 raka’at.

Dalam kita Bulughul Maram juga terdapat hadits yang menganjurkan kita untuk bersalawat ketika selesai mendengarkan serta menjawab adzan.

Lalu, Bagaimana Sebenarnya Hukum Menjawab Adzan? Wajib atau Sunnah?

Suatu hari dipadang pasir Rasul sallaullahu allahi wa sallam mendengar pengembala mengumandangkan adzan, ketika muadzin mengumandangkan “Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaah..” Rasulullah mengatakan “Engkau diatas fitrah..” Lalu “Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah..” Rasulullah mengatakan “Engkau telah keluar dari neraka”
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya sekaligus dijadikan dalil oleh para ulama bahwa menjawab adzan itu tidak wajib tetapi sunnah muakad, berbeda dengan Abu Hanifah, Adu Dawud dan Ibnu Hazm yang mengatakan wajib.

Tapi menurut para jumhur ulama tidak mengatakan wajib karna Rasulullah ketika mendengarkan adzan pengembala tidak menjawabnya tapi mengatakan “Engkau diatas fitrah” dan inilah pendapat yang paling kuat yang mendukung pendapat jumhur ulama, bahwa menjawab adzan itu adalah sunnah muakad.

Walaupun menjawab adzan tidak wajib, tapi itu merupakan sunnah yang sangat dianjurkan karna terdapat keutamaan yang sangat besar , ketika kita menjawab adzan keutamaan muadzin dan adzan maka akan kita dapatkan juga, karna begitu besarnya keutamaan muadzin maka Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam memerintahkan kita untuk mengucapkan yang diucapkan oleh muadzin.

Dan juga didalam adzan terdapat pengakuan atas risalah Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam, serta tugasnya yang membawa kalimat Tauhid.

Karna konsekuensi dari pada tauhid adalah membenarkan Rasulullah dan konsekuensi dari membenarkan Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam adalah dengan melaksanakan yang diperintahkan atau diajarkan oleh beliau.
Imam Nawawi didalam Syarah Shahih Muslim menjabarkan penjelasan adzan..

“Dengan demikian seorang yang telah mengabulkan adzan maka ia telah mengabulkan suatu panggilan yang besar, hatinya tenggelam didalam suatu nilai yang penuh kesakralan, nilai yang benuh dengan berbagai macam makna, aqidah serta keta’atan kepada Allah”

Ada sebuah hadits dari Imam Muslim, dari Umar Bin Khatab Radhiallahu’anhu menjelaskan tentang keutamaan menjawab adzan, sekalimat-kalimat. Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam mengatakan..

“Siapa yang menjawab adzan seperti itu, Ikhlas dari lubuh hatinyan dia akan disurga”

Inilah salah satu keutamaan menjawab adzan, oleh karena itu, dianjurkan menjawab adzan terutama bagi yang ingin menerapkan dan meniti jalan Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam, jangan sia-siakan, mendapatkan pahala yang sangat besar dengan perbuatan yang ringan dan mudah.

Menjawab adzan disamping meneguhkan hati juga menentramkan jiwa menjelang menghadap Allah lewat sholat.
Semoga Allah memudahkan kita untuk mengamalkannya.

Wallahuta’ala a’lam.

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s