Jangan pernah merendahkan siapapun…

  
Saya teringat dulu -belum lama- ketika awal mulai memutuskan untuk kembali berjualan online,

“Kamu mau jualan jilbab yang kaya kamu pakai gini? mana ada yang mau beli, dimodelin dikit, yang bermodel-model gitu baru laku..”
saya cuma jawab “Rezeki nggak ada yang tau..”
Iya karna rizki itu rahasia Allah. 
Banyak sekali saran yang masuk
“Jilbab nya itu mbok ya dimodelin mbak, yang kaya jaman sekarang gitu.. Agak gaya. Pasti laku!” Kata seorang ibu antusias.
“Ini jilbab panjang banget begini siapa yang beli mbak? Ada?” 
“Ah lo mah jualannya jilbab-model begitu sih, males gue, jilbab yang model-model gue maunya” -padahal saya nggak nawarin-
Ya memang tetangga, atau kerabat yang kepo saya jualan apa setelah diberi tau tidak berminat. Tapi ternyata Allah datangkan pembeli dari jalan lain, dari berbagai daerah. 
walaupun usaha saya hanya usaha kecil-kecilan, tapi Alhamdulilaah omongan orang tersebut tidak terbukti, sampai saat ini masih ada yang mau beli jilbab saya, dan sudah ada walaupun baru satu, butiq jilbab yang langganan ambil disaya, Alhamdulilaah. 
Walaupun belum dikatakan “sudah maju” tapi setidaknya ada hasilnya. 
Apapun usaha kita selama itu halal maka tetap teruslah berusaha, dan jangan goyah hanya karna omongan orang, yang kasih rizki ke kita itu Allah yang penting kita harus tanamkan, terutama untuk saya pribadi adalah bahwa kita mencari harta (dunia) untuk akhirat, untuk beramal. Bukan mencari amalan akhirat untuk mendapatkan dunia. Segala yang indah ini ternyata fannah. Jadi jangan sampai kita diperbudak oleh dunia sehingga melupakan bekal diakhirat.
Betapa banyak hambaNya, yang lebih lolos diuji dengan kemiskinan dari pada kekayaan. Mungkin itu mengapa sahabat Nabi Sallaullahu allahi wa sallam yang mulia Amir Bin Sa’ad, ketika istrinya menyerahkan sekantong uang berisi 4000 dirham dari Khalifah Umar Radhiallahu’anhu sebagai santunan karna kemiskinanya. Saat ia buka dan lihat isinya, ia malah bersedih dan berkata lirih:
“Dunia telah datang, dan mulai akan merusak Akhirarku”
Padahal bagi sebagian orang harta adalah sumber kebahagian, bahwa uang adalah obat dari kegelisahan.
Harta adalah cobaan, kemiskinan juga cobaan. Yang berhasil dari cobaan melewati kemiskinan bukan bagaimana kita bangkit dari yang tadinya miskin lalu menjadi kaya, tapi bagaimana kita menghadirkan Allah dalam setiap usaha kita dalam menyambung hidup, bagaimana kita tetap terus memujiNya dalam keadaan apapun, bisa makan atau tidak. Bagaimana kita bisa melewatinya dengan sabar dan tetap berhuznuzan kepadaNya. Dan yang berhasil melewati ujian dengan limpahan harta adalah bukan bagaimana kita tidak menyia-nyiakan kesempatan diberikan kaya dengan bersenang-senang dan hura-hura, bukan pula bagaimana kita menjaganya agar tidak habis, tapi bagaimana kita menggunakan harta itu untuk dijalan Allah, untuk berbagi kepada sesama, untuk tetap merendah bahwa semua ini hanyalah titipan dan yang paling penting adalah syukur. Bagaimana kita mensyukurinya.
Utsman Bin Affan Radhiallahu’anhu beliau adalah seorang yang kaya raya bahkan lebih kaya dari pada kedua sahabatnya Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar Bin Khatab Radhiallahu’anhuma, tapi Anas Bin Malik pernah berkata “Kuhitung tambalan jahitan dibaju dan surbannya. Kudapati semua tak kurang dari tiga puluh dua”
para sahabat nabi, mereka adalah orang yang sangat terkenal kesahajahannya. Dari mereka yang terkenal sangat dermawan, kita belajar bahwa silau akan dunia hanyalah kehinaan. Belajar bagaimana menjadikan tujuan hidup ini adalah akhirat, belajar menjadikan dunia hanya sebagai lahan, untuk ditanami amal yang akan kita tuai kelak diSurgaNya.
Ya mengejar dunia, cinta dan ambisi kepadanya adalah sebuah kehinaan, maka benar yang dikatakan salah seorang ulama bahwa “Alangkah menakjupkannya dunia, dia menghinakan siapa saja yang memuliakannya, dan memuliakan siapa saja yang menginakannya..”
Islam tidak mengharuskan penganutnya untuk hidup miskin, dan berpakaian lusuh. Tidak. Islam tidak melarang penganutnya untuk kaya.
Kaya bukan sebuah dosa, dan miskin bukan sebuah kutukan. Kaya atau miskin sama saja dimataNya. 
Yang penting sekarang bagaimana kita tumbuhkan rasa rindu dan keinginan yang kuat kepada tempat dimana moyang kita berasal yaitu SurgaNya. Sehingga meski kita bersemangat mengais rizkiNya kita tidak terjerumus kepada perangkap dunia yang menjadikan kita lalai dari mengingat Allah. Yang sedikit tapi penuh berkah sehingga terasa cukup jauh lebih baik dari pada banyak, melimpah ruah tapi melalaikan membuat kita lupa kepada pemberinya.
Apa yang kita kejar selama ini yang banyak pertumpahan darah terjadi karnanya, kesyirikan, maksiat, perzinahan, dan banyak kedurhakaan yang dahsyat lainya dilakukan kepada Allah karna terlalu cinta kepadanya, ternyata lebih hina dari pada seekor bangkai kambing yang cacat.
Jadi apa yang kita banggakan dari seekor bangkai itu? 
Sebagai seseorang yang yakin bahwa yang memberikan rizki, harta dan tahta adalah Allah semata, maka tidak sepatutnya bagi kita merendahkan orang lain hanya karna sebatas harta, hanya karna sebatas dia kedudukan yang lebih rendah dari kita.
Apa yang kita miliki saat ini, harta, kedudukan, keluarga yang harmonis itu semua dari Allah yang Maha Pemurah. Harta yang kita punya, itu real dari Allah bukan semata-mata karna kerja keras dan ilmu kita.
Dan jika orang lain tidak punya apa yang kita punya dan sebaliknya itu bukan karna ketidak adilanNya, tapi Allah yang Maha Tunggal, yang tidak ada sekutu bagiNya, dengan IlmuNya lebih mengetahui apa yang terbaik bagi kita dari pada kita sendiri.
Banyak sekali orang yang merasa bangga dengan apa yang ia capai saat ini, sampai-sampai dia lupa dengan pemeberinya. Maka dengan itu akhirnya dia merendahkan orang lain yang tidak “punya” sepertinya.
Maka jangan pernah merendahkan siapapun. Karna kita nggak akan tau akan jadi seperti apa dia dimasa depan.

Siapa tau dia adalah orang yang akan Allah berikan lebih, dari pada apa yang kita punya sekarang.

Iklan

Tentang Pengemis

  
Udah beberapa tahun ini tidak lagi kasih uang kepengemis meski pun cuma gopek.

Ke pengemis yang masih bisa sebenarnya dia untuk kerja. Yang kaki dan tangannya nggak kenapa-kenapa, matanya masih melihat jelas.

Atau juga keorang-orang yang datang bawa-bawa brosur mengatasnamakan masjid atau anak yatim. Kadang bilang maaf aja..

Seringnya mereka yang bawa brosur ini maksa lhoo.. Sering banget didatengin. Udah bilang maaf masih keukeuh.. Berapa aja mbak, seikhlasnya kami terima.. Terus maksa dan nggak mau pergi kalau belum dikasih. Sampai pernah saya tanyain ini dari mana, masjidnya dimana? Tapi cuma jawab nama masjidnya aja alamatnya nggak. Terus dia kesel. Udah deh mbak kalau nggak mau kasih mah yaudah!

Pernah akhirnya saya kasih. Karna yang datang laki-laki 3 orang, takut juga. Udahdeh kasih aja biar cepet pergi, tau gaak pas kasih uangnya, terus tutup pintu. Mereka langsung rebutaan. Semenjak itu, gak mau lagi. Meskipun mereka 10 orang. *tapi stand by pentungan dibelakang kalau mereka macem2* hahaha..

Pernah juga ada orang pengen sok islami “Asalamualaikum akhwat.. ” Dia terus2an nyebut saya akhwat “iya akhwat.. Kami dari sini akhwat” haha mungkin maksud dia “ukhti” lol..

Nah kalau ini pengalaman temen, lebih extreme lagi kalau dia. Ada orang yang minta sumbangan, ngasih alamat lengkap masjidnya beserta no. Tlp. Terus ditlp beneran.. Ketawan deh bohong, pihak masjid mengaku nggak pernah suruh orang untuk minta-minta. Akhirnya ditegur.. “Ini kata masjidnya bukan pak.. Wah bapak mau bohong yaa!” Tertegunlah dia. Terus pergi sambil menggerutu.. Kalau gak mau ngasih yaudah. Haha..

Kemarin temen abis ketipu juga. Tokonya didatengin ibu-ibu, ngaku dari dinas minta uang kebersihan.. Dikasih aja. Ternyata didepan kepergok satpam.. Habislah dia diintrogasi ternyata bener, nipu.

Tapi ada, nih temen satu dia ngeyel banget.. Suka kasih uang ke ibu-ibu yang masih kuat, padahal.

“kok lo kasih sih…”

“Emang kenapa, gue mau ngasih..

*maaf kalau bagi sebagian orang kata lo-gue itu kasar. Tapi bagi kita yang muda itu hal yang biasa. Hahaha gak deng becandaa.. kalau sama seumuran udah kenal lama, disini biasa pakai lo-gue*

“Tapikan liat dia masih kuat. Males aja dia..”

Tiba-tiba dia diam menatap saya dengan tatapan yang seolah2 saya adalah orang yang paling jahat dan pelit sedunia.

Mungkin kalau diftv kaya cowok yang bilang ke cewek “Aku udah gak cinta lagi sama kamu! Soalnya kamu suka nyomot bakso aku kl kita lagi makan berdua!”

Terus ceweknya cuma jawab “Kamu jahat! Aku benci sama kamu!” Terus pukul2 manja.

Tapi sayangnya kita bukan tipe wanita se-geli-itu -_-

“kalau lo mau ngasih kasih aja. Urusan dia bohong biar itu jadi urusan dia sama Allah!” Katanya.

“Ya bukan masalah itunya… Tapi..”

“Apa?”

Ah sudahlah.. Kalau dilanjutkan bisa sampai pagi. Kita emang dari dulu udah sama-sama keras, sama-sama kuat sama prinsip masing2. Dalam hal apapuun. Dari jaman SMA. Temen saya ini selalu membuat saya gagal mengungkapkan apa yang ada dikepala saya. Karna dia selalu punya jawaban yang kuat, yang mematahkan pendapat saya tapi nggak bikin saya manut sama pendapatnya. Begitupula sebaliknya. Pokonya isi kepala kita jarang banget sama.

Dia adalah fulanah. Pada postingan saya “Akhirnya Allah pun menyentuh hati fulanah” yang udah pernah baca pasti tau 😀

Menurut saya tidak kasih uang kepengemis bukan pelit. Tapi itu, prinsip.

“Kasih seribu dua ribu aja apa susahnya, segala nuduh orang nipu”

Bukan masalah seribu duaribu tapi lebih kepada didikan. Pikir deh kalau semua orang dijalan berpikiran “yaelah seribu doang” kali perapa puluh yang lewat. Jadi kaya lah dia..

Akhirnya apa? Dia jadi terdidik minta-minta.

Nah. Kalau aja semua orang sadar. Nggak kasih pengemis walaupun cuma gopek.. Pendapatan nya yang tadinya ratusan ribu perhari jadi nol rupiah.

Maka dia nggak akan mau ngemis lagi.. Gopek yang kita pikir nggak berharga.. Akhirnya kita kasih ke mereka. Dampaknya besar lhoo.. Bukan mereka gak bisa makan jadi makan. Tapi mereka jadi malees.

Dibanding kerja. Yaiyalah enakan ngemis.. Gak capek duduk aja pakai baju compang-camping. Dapat uang.

Lagian gak kasih uang ke mereka sebenernya itu lebih membantu mereka kebanding kasih uang mereka lhoo… Seriuss..

Kita bantu mereka, untuk move on kekehidupan yang lebih baik. Juga dalam hal akhirat, karna dalam islam fix minta-minta itu haram.

Coba dipikirkan lagi. Jangan liat gopeknya, seribu duaribunya. Tapi pendidikan yang kita kasih ke mereka..

Kalau memang kita mau berinfaq, sedekah.. Lebih baik ke tempat-tempat yang memang jelas dan transparan. Mau menyumbang dana untuk masjid, lebih baik datang langsung. Atau ke anak yatim, banyak kok rumah yatim yang amanah.

Atau bisa juga via online yang hanya tinggal transfer seperi ACT, Peduli Muslim, etc.

Ya kalau kesitu kan nggak bisa gopek.

Yaudah ceplosin aja ke kontak amal dimasjid. Kalau gak kecelengan, nanti kalau udah banyak bisa ditansferin.

Sayang-sayang.. Kalau uang kita akhirnya malah disalah gunakan.

Emang sih. Niat kita bantu lillahita’ala. Masalah bohongnya itu urusan dia sama Allah. Tapikan kita juga harusnya bisa lihat dan nilai.. Maka lebih baik tersalur ketempat-tempat yang benar-benar lebih membutuhkan doong?

Btw,masalah mengemis dalam islam ini ada penjelasannya https://pengusahamuslim.com/4758-mengemis-yang-haram-dan-mengemis-yang-halal.html

Kajian Kitab Bulughul Maram: Hadits ke-207

tumblr_l5ebjjJNfI1qc160zo1_500

“Yang Dibaca Ketika Mendengar Muadzin Mengumandangkan Adzan”

Pemateri: Ustadz Zainal Syamsudin, Hafizahullah.

Adzan menurut bahasa adalah “al-i`lam” (pemberitahuan) adapun menurut istilah adalah memberitahu akan masuknya waktu sholat dengan kalimat khusus.

Hadits ini dari Abu Sa’id Al-khudri atau Malik Ibnu Sinan, dia adalah seorang sahabat Al-Anshar Nabi sallaullahu allahi wa sallam. Abu Sa’id Al-Khudri banyak memiliki riwayat diantaranya hadist ini, yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya, serta Imam Muslim dalam Kitabussholah. Beliau meninggal pada tahun 74H.

Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam bersabda “Kalau seandainya semua orang tau rahasia adzan, kemudian tau rahasia shoft pertama, kemudian dia tidak menemukan kecuali dengan cara undian, maka ia akan melakukan undian”
Terkadang manusia itu cenderung lebih mendahulukan apa yang sekarang ini dicintai oleh manusia dari pada Allah, sehingga fadilah menjawab adzan, perintah Rasul sallaullahu allahi wa sallam, sering terlantar, sering tidak dihiraukan, banyak yang tetap asyik bicara yang tidak penting tatkala adzan dikumandangkan.
Padahal Rasulullah sallaullahu allahi wa sallam, Aisyah berkata, “Kami setelah sholat itu saling berbicara dengan Rasulullah tapi ketika mendengar adzan seakan-akan tidak mengenal” Lanjut Membaca..

Hingar-Bingar Artis Tobat

analog-books-camera-clock-colors-Favim.com-435683

Beberapa hari yang lalu, Seorang teman menasehati saya..

“Kita mah jangan ikut heboh kalau ketemu artis dikajian.. Karna niat kita kan bukan untuk itu.. ”

“Nggak ada yang special kok dari mereka, kita dan mereka sama. Sama-sama pernah tenggelam kedalam maksiat.. ”

“Kenapa semangatnya beda, kalau pingin kenalan atau ngobrol sama ex artis kebanding sama saudaranya yang lain.. yang juga baru ngaji”

“Iyalah siapa elo.. ” (canda saya)

“Katanya, jangan lihat orang dari masa lalunya, kenapa kita sering banget mengatakan “Fulan/ah itu lho.. yang mantan pemain sinetron..”

“Ahsan, kita jangan terlalu banyak memuji mereka, toh kita juga pernah berada diposisi yang sama ketika hidayah itu menyapa.. ya kan? kalau mereka jadi ujub gimana.. lagian apa sih bedanya ex artis sama saudara kita itu, sama-sama orang yang -baru ngaji- kan?” Lanjut Membaca

Nyindir diSocmed? Kenapa nggak..

tumblr_mr9s3oxM3i1s753zro1_500

Jangan katakan,

“Kalau ada suadara kita yang belum kenal sunnah, belum paham ajak dan rangkul dengan lembut, jangan nyindir lewat status..”

Kalau kamu sendiri masih doyan update status.

saya selalu ingin menyampaikan banyak hal kepada seseorang, yang sudah saya kenal ketika saya menemukan sesuatu yang salah dalam hidupnya, saya tidak ingin mengatakan saya adalah orang yang -terlalu- perduli. tidak juga. karna kenyataannya saya lebih banyak diamnya melihat kemungkaran yang terjadi dari pada bertindak.
Jangnkan untuk bertindak untuk menyampaikannya saja terkadang sulit, ada banyak pertimbangan yang membuat saya berpikir kalau -lebih baik- tidak usah disampaikan. Lanjut Membaca

Ada Apa Denganmu?

tumblr_ldyma0hhs51qdbbywo1_500
Ada Apa Denganmu?

Ada yang lucu, Ketika keluar fatwa tentang larangan muslim mengucapkan “selamat natal” mengira yang akan protes adalah mereka orang-orang nashoro, ternyata justru malah kebanyakan adalah orang-orang islam.

Ketika ke-empat imam madzab pun mengharamkan mengucapkan selamat natal kenapa dirimu masih saja berdalih:

“ini merupakan bagian dari cara membangun toleransi dan hidup damai di tengah keberagaman di Indonesia. Selain itu, perayaan Natal juga merupakan bagian dari peribadatan umat lain yang harus dihargai” Lanjut Membaca

Tentang Kenaikan BBM

dapur tradisional

Bagaimanakah sikap seorang muslim menghadapi kenaikan BBM?

Keputusan pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak atau BBM, ternyata nggak hanya rame dan heboh dipom-pom bensin dan dijalan-jalan oleh teriakan para demonstran, tapi ternyata disocial media terutama facebook nggak kalah heboh juga.

Ada yang menghujat pemerintah, mencak-mencak, mengeluh tentang kondisi keuangannya, ada yang pasrah, ada yang tawakal, ada juga yang bingung. Kalau saya, masuk kategori yang terakhir.

Bingung..

Bingung banget,

Nggak tau mesti gimana?

Tapi sebagai seorang muslim, nggak usah bingung-bingung, muslim yang baik adalah yang selalu mengembalikan perkara apapun kepada Al-Qur’an dan As-sunnah.

Islam adalah agama yang sangat sempurna, semuanya ada aturannya, jadi dalam kondisi dan perkara apapun syariat islam harus tetap dinomor satukan. Lanjut Membaca..