Bercadar Kok Selfi?

imageLiat selfie akhwat-akhwat bercadar, diinstagram, path atau apalah yang makin kesini makin berani dan sudah tidak malu-malu lagi menunjukan diri. Atau main ajang keren-kerenan dengan gaya mereka yang borjuis dan “Gaul” meski bercadar.

Ada perasaan kecewa, sebagai orang yang dulu -juga kini- sangat mengaggumi mereka. Dulu jauh sebelum saya mengenal dakwah sunnah, saya sering memperhatikan mereka, saya kagum melihat mereka, kok ada ya wanita dizaman ini yang mau menyerahkan seluruh hidupnya untuk ta’at, seta’at-ta’atnya hingga saking takutnya menjadi fitnah bagi laki-laki ia rela menutup sesuatu yang paling dirawat dan diperhatikan oleh seorang wanita. Yang banyak wanita lain yang mati-matian merawatnya, mempolesnya demi agar dilihat.

Dan bahkan jika dia tidak menutupnya pun tidak berdosa, insya Allah. Karna tidak semua ulama sepakat bahwa itu wajib.

Jadi kata apa lagi yang pas untuk mereka kalau bukan “Saking ta’atnya”

Tapi, kalau lihat fenomena sekarang ini. Saya jadi bertanya, sebenarnya apa? Apa fungsi kain penutup wajah itu, kini?

Mohon maaf.

Mungkin akan ada yang berkata “Jangan shuzon anti! Siapa tau mereka tidak tau ilmunya!”

Mungkin, iya.. Saya su’uzhon tapi coba kembali bertanya pada diri.

“Apa tujuan saya `yang sebenarnya` upload foto bercadar disocial media yang bisa dilihat banyak orang?”

Kalau memang tujuan `kamu` pakai itu untuk menutup celah fitnah dari laki-laki ajnabi?

Lalu bagaimana ini? Ok. Mungkin saya saja yang `terlalu` su’uzhon.

Iklan