Mbak yang seksi itu, dia telah menegur saya secara tidak langsung.

  

Senin kemarin jadwal saya belanja bahan. waktu lagi duduk termenung distasiun karna bingung gimana caranya bawa bahan sebanyak ini turun tangga. Sedangkan abang tukang panggulnya sudah pergi karna hanya bisa bantu bawa, sampai loket. Duduk, diam, melepas lelah. Kreta ke pondok ranji sudah datang, orang-orang berlari, saya masih santai duduk ngilangin capek. Karna ini baru pertama kalinya jalan kaki dari blok A ke stasiun. Karna rekomendasi dari abang panggulnya. Katanya deket tapi rasanya.. Dengkul kaya mau lepas tulang-tulangnya.

Ketika capeknya sudah sedikit hilang, akhirnya saya turunin kantong roda saya pelan-pelan sembari megang satu gembolan plastik gede. Baru satu anak tangga, saya sudah tergelincir. Tiba-tiba ada seorang wanita yang kelihatannya lebih tua dari saya, berpakaian cukup seksi, rok mini diatas lutut dengan kemeja ketat berlengan pendek, dan sepatu high heels, sedang naik tangga, sudah tinggal satu anak tangga lagi, tapi dengan sigap dia langsung buru-buru bantu saya, dia rela balik ketempat turun tangga. Dan kami bahu membahu membawa belanjaan saya. Lalu dia pergi kembali menaiki tangga. Ya jadi bolak-balik. Padahal saya tau dari awal dia naik tangga, dia sedang buru-buru. Saya aja yang pakai sepatu sendal yang berhak hanya sekitar 3cm pegelnya minta ampun, apalagi wanita ini yang nggak tau deh berapa centi. 

Saya takjub dengan akhlaknya. Meski dia bukan wanita berhijab. Bahkan saya tidak tau dia seorang muslim atau bukan.

Tapi apa yang dia lakukan tadi membuat saya terenyuh. Mungkin bagi yang membaca atau bagi wanita itu, ini hanya hal spele tapi bagi saya ini keren.

Karna.. Saya aja yang sudah berhijab lebar seperti ini belum tentu “bisa” dan “mau” melakukan itu, apalagi dalam keadaan terburu-buru. Dan tinggal satu anak tangga lagi, belum tentu mau turun-naik lagi demi membawa belanjaan orang lain.

Dan mbak yang seksi itu, telah menegur saya secara tidak langsung.

Saya tidak sedang membenarkan bahwa “kalau begitu nggak papa dong nggak pakai jilbab yang penting akhlak kita baik” karna jilbab tetap wajib bagi wanita muslim meski dia memiliki akhlak yang buruk.

Bukan itu, pelajaran yang saya ambil dari kerjadian ini. Tapi mbak ini, mbak yang berpakian seksi ini mengajarkan saya tentang mendahulukan menolong orang lain dari pada kepentingannya sendiri.

Dan pelajaran penting yang saya ambil:

“Wanita ini saja yang tidak berhijab bahkan lebih cenderung berpakaian seksi punya akhlak dan kepekaan tolong menolong yang tinggi kepada orang lain berarti kita yang sudah berhijab harus lebih dari wanita itu”

Padahal wanita ini sedang tidak membawa

“Islam” bahkan tidak dikenali dia seorang muslimah atau bukan.

Tapi kita. Kita setiap hari membawa “Islam” kemana-mana. Orang tau kita adalah orang islam. 

Tapi kadangkala kita mencoreng islam dengan akhlak kita yang buruk.

Jadi sebetulnya jangan marah kepada seseorang yang mencela jilbab kita karna kelakukan dan akhlak kita, tapi marahlah pada diri kita sendiri, karna sudah menjadi “Sebab” pakaian semulia jilbab dan agama “Seindah” Islam dihina hanya karna akhlak kita.

Lalu, sehabis wanita itu pergi meninggalkan saya, saya banyak-banyak berdoa untuknya.

Masya Allah.. Alangkah indahnya jika kita membantu orang, mendapat pahala dari Allah, juga mendapat banyak doa dari orang yang kita bantu.

“Boleh jadi engkau tertidur tetapi puluhan doa naik ke langit untukmu. Dari si fakir yang pernah engkau tolong. Dari si lapar yang pernah engkau beri makan. Dari si sedih yang pernah engkau hibur. Dari si miskin yang pernah engkau bantu…” Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Berdoa untuk orang yang sudah membantu kita adalah cara terbaik untuk berterimakasih kepadanya, bukan karna soal besar atau kecilnya, tapi lebih kepada menghargai waktu dan kepentingannya yang telah ia korbankan untuk membantu kita.

Bukan soal besar atau kecilnya, tapi lebih kepada kesan dan pelajarannya.
Seperti mbak yang seksi itu, dia telah menegur saya secara tidak langsung.

Mungkin antum hafalannya sudah seperi Imam syafi’i yaa.. Masya Allah..

  Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah berkata,

“Buatlah sebuah buku kumpulan faidah atau buku catatan untuk menulis faidah ilmu. Jika engkau memanfaatkan bagian belakang cover kitab untuk mencatat faidah dari kitab tersebut, maka itu suatu hal yang baik. Lalu pindahlah catatanmu tadi ke buku catatanmu, urutkanlah sesuai dengan materinya, lalu cantumkanlah pokok bahasan, nama kitab, halaman, dan jilid kitab. Lalu tulislah di akhir

catatanmu tadi : “Dinukil dari…” supaya tidak

tercampur antara faidah yang dinukil dari kitab dan yang tidak dinukil dari kitab tersebut” (Hilyah Thalibil ‘Ilmi hal. 52)
Sudah berapa lama kita ngaji? Ada yang sudah setahun, dua tahun atau bahkan puluhan tahun.. Kalau saja dikumpulkan catatannya -Jika mencatat- mungkin sudah setebal kitab. 
Kata, Ustadz Syafiq Riza Basalamah “Kita sudah lama ngaji bahkan sudah sampai ada yang puluhan Tahun, nah kalau kuliah dia sudah doktor.. ”
Kalau dipikir-pikir iya juga, karna kuliah dan ngaji (bermajelis ilmu) hakekatnya sama, sama-sama menuntut ilmu, sama-sama mengkaji dan sama-sama mendapatkan ilmu. Hanya aja bedanya resmi dan tidak resmi.
Tapi alangkah sayangnya kalau itu semua hanya sebatas “Ana ngaji sama ustadz fulan sudah dari tahun sekian.. ” Alias hanya sebatas ingat Nama Ustadznya dan Tahun nya saja, bukan ingat isinya.
Karna ternyata selama kajian cuma duduk dengarkan ustadz bicara, tanpa mencatat sedikitpun. Yang penting hadir ke majelis ilmu.
Disalah satu kajian tematik Ustadz Syafiq riza basalamah, Disela-sela beliau menyampaikan faedah-faedah yang berisi poin-poin ilmu yang sedang beliau sampaikan tiba-tiba.. ucapannya terhenti dan mengatakan:
“Ini nggak ada yang bawa buku? Nggak ada yang mencatat? Mungkin antum disini hafalannya sudah seperi Imam syafi’i yaa Masya Allah… ”
Sembari mengutip perkataan para imam,
Padahal kata para Imam,
ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺻﻴﺪ ﻭﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ ﻗﻴﺪﻩ
ﻗﻴﺪ ﺻﻴﻮﺩﻙ ﺑﺎﻟﺤﺒﺎﻝ ﺍﻟﻮﺍﺛﻘﻪ
ﻓﻤﻦ ﺍﻟﺤﻤﺎﻗﺔ ﺃﻥ ﺗﺼﻴﺪ ﻏﺰﺍﻟﺔ ﻭﺗﺘﺮﻛﻬﺎ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﺨﻼﺋﻖ ﻃﺎﻟﻘﻪ
Ilmu adalah buruan dan tulisan adalah ikatannya.. Ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat. Termasuk kebodohan kalau engkau memburu kijang, Setelah itu kau lepas begitu saja.
Beliau bilang “Jangan sampai ustadznya ngomong berjam-jam tapi nanti ketika ditanya bahas apa nggak tau…”
Kebetulan beliau berbicara itu kepada para ikhwan, saya nggak tau ya bagaimana suasana dibarisan para ikhwan ketika kajian, kalau selama saya kajian, dibarisan akhwat sih alhamdulilaah rata-rata mencatat -Dan alhamdulilaah nggak pernah liat ada yang tidur – bahkan ummahat yang membawa balita pun juga sibuk mencatat, sambil mendengarkan, sambil mencatat, juga sambil mengawasi anaknya, atau pernah juga saya melihat ada ummahat yang sambil menggendong anaknya, tapi tetap mencatat Masya Allah.. 
Mencatat itu sesuatu yang penting, sesuatu yang tidak bisa lepas dari menuntut ilmu. 
Saking pentingnya mencatat ilmu, Imam Asy Sya’bi Rahimahullah pernah berkata
“Jika dirimu mendengar faedah ilmu, maka catatlah meskipun di tembok!” [Hilyah Thalibil ‘Ilmi hal. 53]
Nabi kita, Rasulullah sallaullahu’alahi wa sallam pernah bersabda,
Ikatlah ilmu dengan tulisan” [Dishahihkan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026]. 
Juga Ustadz Yazid hafizhahullah pernah memberikan nasehat, 
“Seorang penuntut ilmu tidak boleh bakhil atau pelit untuk membeli buku tulis, ballpoint, kitab, dan berbagai sarana yang dapat membantunya untuk mendapatkan ilmu. Dalam memenuhi kebutuhannya itu dia tidak boleh bergantung kepada orang lain, tida boleh meminta-minta, dan tidak boleh merepotkan orang lain, bahkan ia harus bersikap zuhud dan qana’ah” 
Menurut saya, secanggih apapun zaman, saya rasa menulis diatas kertas dengan pulpen itu tidak akan punah.
Dan menulis dibuku, saya rasa lebih ‘aman’ kebanding kita catatnya digadget, namanya mesin bisa saja hang, rusak, yang tiba-tiba menghilangkan data kita.
Mencatat, walaupun tidak membuat kita hafal saat itu juga, minimal ketika nanti dirumah atau bahkan dikemudian hari kita bisa muraja’ah nya kembali, dan membuat kita kembali teringat akan ilmu-ilmu tersebut. 
Dan jangan lupa simpan dengan rapi kalau perlu kelompokan sesuai materinya. Biar lebih mudah jika se waktu-waktu kita mencari pembahasan tertentu.
Kalau hanya mengandalkan ingatan yang lemah tadi yang ada hanya lewat begitu aja.
Bagi saya -dengan kemampuan ingatan saya yang terbatas- mustahil untuk bisa mengingat secara detail atau minimal poin-poin kajian secara lengkap hanya dengan duduk dan mendengarkan, karna biasanya kalau kita hanya duduk tanpa ada kegiatan yang dilakukan (menulis) godaan untuk ngobrol dan main hpnya lebih kuat, apalagi godaan ngantuk. 
Ya kecuali..
Mungkin antum hafalannya sudah seperi Imam Syafi’i.

ISLAM FANATIK VS ISLAMPHOBIA

image

Beberapa hari yang lalu.. Disebuah tempat pembelanjaan ada seorang bule entah bule dari mana yang jelas bule. Bule beneran, bukan bule nya pa’le.

Berjalan cepat, tapi ketika lewat tepat didepan saya mendadak dia berhenti, bahkan mundur menghampiri saya, menatap saya dari atas sampai bawah, lama. Cukup lama kalau hitungan durasi normalnya orang menatap orang lain yang tidak dikenal.

Raut wajahnya sangat kesal seolah-olah saya buat salah padanya. Saya heran kenapa orang ini tidak melanjutkan jalannya padahal tadi kelihatan sangat buru-buru. saya menunduk kebawah perasaan saya nggak injak kakinya. Tapi dia seolah-olah seperti orang yang diinjak kakinya. Seperti orang yang mau marah. Teman saya langsung menyelinap kebelakang saya karna takut.

Lalu, saya lihat wajahnya dan saya tersenyum.. Sambil anggukan kepala sebagai rasa hormat.

Tapi ternyata itu, membuat dia makin kesal

“Kamu itu siapaa haaa?”

Saya hanya menatapnya keheranan.

“Saya ini takut sama orang kaya kalian inii… Sama kaya orang yang suka pakai hitam-hitam itu. Pakaian seperti ini hiiih.. ” dengan nada merendahkan.

“Iya pak.. Karna kita muslim 😊”

“Ya! Ya! Ya!.. Muslimmm!!!!” dengan nada yang tinggi.

“Muslim itu terrorisss… teroriiisss…”

“Kalian itu sukanya menembak-nembak oraaang.. Orang ditembakiiiinn…”

“Dodododooorrrrr… Ya kalian ituuu” sambil meragakan gaya orang menembak sambil ngeloyor pergi. Tapi sambil tetap berteriak “Dododododoooorrr… Teroriiss”

Saya dan teman hanya bisa ngelus dada.

menghadapi orang seperti ini memang jangan pakai emosi karna yang ada dia makin benci sama islam. Senyumin aja.. Balas aja dengan akhlak yang baik.

Budeh saya nan jauh disana pernah berpesan “kemana pun kita pergi kita harus jaga ini, jaga ini..” (Sambil memegang jilbab dan niqab)

Kini memang nama islam sedang kembali tercoreng dibarat sana, mungkin ini salah satu dampaknya, maka inilah tugas kita sebagai agen muslim untuk kembali merubahnya, bahwa islam adalah agama yang damai dan penuh kelembutan. Bukan agama kekerasan bukan agama teroris.

Bule tadi mungkin berpikir bahwa saya ini fanatik, radikal dan menyeramkan. Karna pakaian saya. Padahal saya sedang tidak memegang senjata, tidak sedang menodong dia.. justru dia malah yang sudah membuat saya takut, tiba-tiba marah-marah seenaknya.

Jadi siapa yang menakutkan?

Disebut fanatik, radikal, extreme rasanya sudah biasa dialami orang yang memutuskan untuk berhijrah ke islam yang kaffah, dulu ketika memutuskan untuk berhijrah banyak teman yang sering menasehati saya bahwa jangan terlalu fanatik sama islam. Gak baik.

SubhanAllah.

Jadi maksudnya islam itu tidak baik? Atau.. Jika terlalu menta’ati mencintai islam itu tidak baik?

Dari sini saya tau bahwa bukan hanya orang-orang diluar islam saja yang sudah termakan fitnah para musuh Allah seperti bule tadi, tetapi ternyata juga orang-orang islam itu sendiri juga banyak yang terpengaruh. Bahkan justru fitnah ini muncul karna mereka sendiri yang ikut serta mencoreng islam.

Kita tau diluar sana banyaaaak sekali orang-orang yang setiap hari memikirkan bagaimana menghancurkan islam, bagaimana melenyapkan islam selenyap-lenyapnya dari dunia ini. Sehingga dunia ini benar-benar menjadi dunia yang bebas tanpa aturan.

Mereka sangat takut kalau banyak orang yang mengenal islam karna jika sudah kenal pasti akan mencintai islam kalau sudah cinta maka ia tidak akan mau lagi berbuat kelicikan, produk mereka seperti miras, rokok, portitusi, musik dan film tidak akan laku lagi itu kenapa mereka membuat banyak fitnah membuat opini baru tentang islam sehingga sudah benci dulu sebelum mengenal. Bahwa islam itu begini serta begini.

Akhirnya muncul istilah “ISLAM FANATIK”Seolah-olah jika orang terlalu cinta (fanatik) terhadap islam itu berbahaya, buruk, harus dibunuh sebelum dia membunuh banyak orang. Padahal sama sekali tidak demikian, menurut saya orang yang fanatik yang sangat cinta terhadap islam justru dia akan berbuat banyak kebaikan, dia akan isi hari-harinya dengan amal shalih yang diperintahkan dalam islam. Islam adalah agama yang penuh kedamaian bahkan saking tidak sukanya Allah terhadap kedziman terjadi dimuka bumi ini, Allah tetap mengabulkan doa orang yang terdzalimi meski dia, adalah orang kafir.

Saya tidak terima jika ada orang yang melakukan pemberontakan kepada pemimpin, menumpahkan banyak darah secara keji dan membabi buta disebut “islam fanatik” atau melakukan sesuatu yang sebenarnya bertolak belakang dengan islam, tetapi mengatasnamakan islam.

Mereka sama sekali bukan islam fanatik. Mereka tidak fanatik kepada islam tapi mereka fanatik kepada kelompok mereka, kepada golongan mereka. Karna kalau mereka fanatik terhadap islam tentu mereka tidak akan berbuat demikian karna itu bukan ajaran islam.

Kita jangan mau terpengaruh dengan orang yang ingin menjelekan nama islam. Tujuan mereka hanya semata-mata agar kita enggan, takut, malas mempelajari Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, menta’ati Allah dan RasulNya.

Setelah bule itu pergi meninggalkan kami lalu masuk waktu ashar dan hari jum’at maka saya berdoa semoga bule tersebut Allah beri hidayah islam.

Dan kalau kelak bertemu lagi dan dia masih mencak-mencak saya ingin sekali kasih dia Al-Qur’an terjemah dan saya memintanya untuk baca sampai habis. Agar dia tidak menjudge islam seenaknya tanpa mengetahui yang sebenarnya. Kalau dia menolak atau bahkan dia lewati satu lembarpun. Saya katakan kepada dia

“Berarti bapak takut.. ”

Ya berarti dia takut,

“Bapak takut akan jatuh cinta kepada islam.. Bapak takut hidayah itu datang. Karna berarti dihati bapak, ada perasaan yang membenarkan islam. Dan bapak tidak yakin dengan jalan yang bapak tempuh sekarang, kalau bapak yakin apa yang bapak tuduhkan terhadap islam dan bapak yakin dengan jalan bapak, maka buktikan baca sampai habis”

Naah bagi yang masih phobia beranggapan kalau islam itu gak usah lebay biasa-biasa aja, beranikah kita melakukan tantangan tersebut? Pelajari dan baca Al-Qur’an hingga artinya sampai habis, hadiri majelis ilmu, cari tau secara mendalam tentang islam.

Karna sebenarnya kita ini bukannya malas tapi takut, kita sudah dikalahkan gengsi. Kita selalu mengelak dan melawan nurani kita sendiri. Karna nurani selalu ingin dan terus dekat dengan penciptanya.

Itu kenapa ada salah seorang teman yang sudah jauh dgn islam dan sudah tidak mau dengar nasehat2 agama, apalagi ayat yang berkenaan dengan maksiat yang ia lakukan. Bahkan dia akan marah. Itu senenarnya dia sedang menutupi ketakutannya, Karna didalam lubuk hati setiap manusia, seperti apapun dia tentu ada rasa takut kepada sang pencipta.

Jadi bukannya malas baca, tapi takut. Takut jatuh cinta dengan islam. Karna masih ingin dan sulit lepas dari kebiasaan2 yang melalaikan. Takut dan gengsi untuk bertobat. Takut dibilang gak asik lagi. Ya kan?

Kalau tidak. Maka buktikan 😊

Mau tetap phobia atau kita akhiri ini dengan menyelesaikan tantangannya dan kita lihat perubahan yang terjadi setelahnya. Kalau baca novel harry potter yang setebal kamus aja kamu mampu apalagi cuma Al-Qur’an 😊 Berani mencoba? Buktikan!

Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.

Allah pun, Menyentuh Hati Fulanah..

tumblr_myb2v40Zbg1rbawg4o1_500

Beberapa bulan yang lalu awal pembicaraan saya dengan fulanah mengenai masalah hijab dibbm, seminggu kemudian -Kalau tidak salah atau bahkan kurang dari itu, -Atas izin Allah-

Tiba-tiba ada sosok wanita berpakaian serba hitam, membuka helm..

“Daleee… ” *Biasa dia memanggil saya*

Ya! Ternyata fulanah..

Saya berdiri dengan tatapan hampir nggak percaya, terakhir bertemu.. -sudah lama hampir setahun lebih- fulanah masih mengenakan celana jeans ketat, sepatu cats dan kaos oblong plus motor laki-laki (Motor laki-laki disini, bukan motor gigi, tapi benar-benar motor yang dikhususkan untuk laki-laki) Lanjut Membaca..

Nenek dan Catatan Kajiannya..

10881659_437478489738515_715110804209715869_n

Merekalah.. Yang akan menjadi hujjah terberat bagi kita yang muda yang tidak mau belajar agama.

“Nenek.. Sering ikut kajian ya, catatan nya sudah banyak..”

“Iyaa.. Alhamdulilaah badannya lagi enak, kemarin2 suka nggak kuat diajak jauh.. ”

“Oh, Rumahnya dimana?”

“Di( saya lupa dimana)” Yang jelas bukan dekat dari majelis tempat ia ngaji. Lanjut Membaca..